Home / Opini

Rabu, 15 April 2020 - 23:51 WIB

Swasembada Pangan di Negara Surga

Maghdalena (Penulis)

Maghdalena (Penulis)

Oleh: Maghdalena

Saya sedang mengerjakan beberapa pekerjaan rutin rumah tangga ketika pagi ini sayup-sayup mendengar lagu yang berjudul “Kolam Susu” mengalun memasuki indera pendengaran saya. Sesaat saya dibawa bernostalgia. Membayangkan kelompok musik Koes Plus menyanyikan tembang lawas itu dengan ciri khasnya.

Bagi generasi yang lahir di tahun 60 atau 70an tentu familiar dengan lagu itu. Meskipun saya adalah generasi 80an, tapi saya termasuk pencinta lagu-lagu lama, dibandingkan dengan musik populer hari ini. Tembang lawas seperti itu akan lama menetap dalam ingatan.

Barangkali karena liriknya yang sederhana, sarat pesan dan makna juga mampu menggugah jiwa.Berikut saya tuliskan lirik lagu tersebut:

“Bukan lautan hanya kolam susu,
Kail dan jala cukup menghidupimu,
Tiada badai tiada topan kau temui,
Ikan dan udang menghampiri dirimu,

“Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman,
Orang bilang tanah kita tanah surga,
Tongkat kayu dan batu jadi tanaman”

Penggalan lirik lagu ciptaan Yok Koeswoyo yang dinyanyikan dan dipopulerkan oleh grup musik Koes Plus pada tahun 1973 itu membuat hati kita buncah oleh rasa bangga sebagai warga negara yang tinggal di Indonesia yang kaya.

Indonesia adalah Negara Surga

Indonesia adalah negara yang subur dan kaya akan sumber daya alam. Ibarat surga. Iklimnya yang tropis dan hangat membuat banyak jenis tanaman dapat hidup di negara ini tanpa perlu perawatan susah payah.

Mengutip laman merdeka.com (26 Agustus 2018), bangsa Indonesia adalah penghasil rempah termahal di dunia, diantaranya: kayu manis, cengkeh dan kapulaga. Hal ini tentu tidak terlepas dari kondisi alam Indonesia yang subur sehingga jenis tanaman yang sangat dibutuhkan di negara empat musim dapat tumbuh dengan mudah di negara kita.

Negara kita yang terdiri dari 17.504 pulau ( Direktorat Jendral Pemerintahan Umum 2019) dan terbentang dari Merauke di timur hingga Sabang di bagian barat, Indonesia adalah anugerah yang luar biasa dari Tuhan. Seperti lirik lagu di atas, tanah di negara kita adalah tanah surga. Sebuah ungkapan rasa syukur pada Tuhan yang telah menciptakan sumber daya alam yang berlimpah dan sangat potensial.

Lautan Indonesia juga tidak kalah hebatnya. Negara Indonesia sebagai negara kepulauan, memiliki wilayah perairan/lautan lebih luas daripada daratan. Mengutip laman brainly.co.id, luas wilayah indonesia seluruhnya adalah 7.081.369 km². Luas daratannya adalah 1.904.569 km², dan luas lautannya adalah 5.076.800 km².

Dari data tersebut dapat kita lihat bahwa lautan Indonesia jauh lebih luas daripada daratan. Namun saat ini kita sama-sama melihat, sumber daya laut Indonesia belum optimal dimanfaatkan. Hingga tahun 2019 lalu, sumber daya laut baru bisa dimanfaatkan sebesar 7 persen saja.

Baca juga  Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial

Swasembada di Tengah Corona

Kondisi pandemi yang saat ini melanda dunia, termasuk negara kita, lambat laun akan memberikan efek yang sangat signifikan bagi banyak sektor di Indonesia. Apabila wabah ini tidak mereda, maka sudah bisa dipastikan bahwa akan terjadi kemerosotan daya tahan masyarakat terutama di sektor ekonomi. Akan ada kemungkinan PHK besar-besaran, sebagian besar masyarakat yang kehilangan mata pencarian. Otomatis akan terjadi penurunan daya beli, kemiskinan semakin merajalela dan lain sebagainya.

Namun di tengah segala ketidak pastian hari ini, saya merenungi lirik lagu Kolam Susu tadi. Benarlah kiranya bahwa negara kita ini adalah negara yang sangat kaya, potensial dan memiliki sumber daya tak terbatas.

Apa kontribusi kita?

Mengambil nilai-nilai baik yang terdapat dalam lirik tembang lawas itu, saya memandang, ada begitu banyak hal yang dapat kita lakukan di tengah pandemi hari ini, juga langkah kita selanjutnya setelah wabah ini berlalu.
Saya mencoba merincinya menjadi beberapa poin:

Pertama, menjadikan keluarga sebagai basis swasembada pangan.
Bisakah keluarga menjadi basis swasembada pangan? Tentu saja bisa. Banyak hal kecil yang bisa kita lakukan mulai dari sekarang. Misalnya dengan memanfaatkan lahan di rumah untuk menanam berbagai macam tanaman. Sayuran, cabe, bawang, timun, tomat dan lain-lain, bisa kita tanam di rumah.

Banyak metode yang bisa kita gunakan. Seperti metode tabulampot (tanaman buah dalam pot), hidroponik (menanam tanpa media tanah tapi menggunakan air), metode vertikulur (menanam dengan pola vertikal), dan lain-lain.
Tidak harus menjadi seorang sarjana pertanian untuk bisa menguasai metode tersebut. Ilmu dan tutorialnya banyak tersebar di internet. Ibu-ibu rumah tangga bisa melakukan metode ini. Tinggal kita mau mempelajarinya atau tidak.

Saya tidak mengatakan semua bahan pangan kita bisa ditanam di rumah ya. Misalnya saja padi, kita tentu tetap membutuhkan jasa pak tani untuk menyediakan komoditi yang satu itu. Tapi setidaknya, upaya kita menanam sendiri bahan pangan tersebut akan membuat kebutuhan pangan dan gizi keluarga sangat terbantu. Apalagi di tengah kondisi terbatas kita hari ini.

Kedua, menumbuhkan semangat gebrakan di bidang pertanian. Seperti menciptakan varietas unggul bibit tanaman, menciptakan metode efektif dalam bercocok tanam, membuat inovasi pupuk yang lebih ramah lingkungan, dan merancang teknologi pengolahan hasil tanaman yang menyasar pengguna para petani. Kemudian semua inovasi ini dikembangkan, disosialisasikan pada masyarakat, khususnya para petani dan disupport penuh oleh stakeholder terkait, misalnya pemerintah, untuk diaplikasikan di lapangan.

Hal ini ditujukan bagi para akademi, praktisi dan siapa saja yang menggeluti bidang pertanian, ataupun masyarakat umum yang memang mempunyai ide hebat di bidang ini.

Baca juga  Hadist Nabi, Joe Biden, & Dinamika Politik AS; Posisi Minoritas di Tengah Mayoritas

Kita patut mulai memberikan apresiasi dan support penuh bagi banyak anak bangsa yang telah menciptakan terobosan dan inovasi baru dalam bidang pertanian ini.

Contohnya beberapa waktu lalu, dikutip dari laman beritabeta.com, seorang anak bangsa bernama Surono Danu, menjadi sosok gemilang di bidang pertanian Indonesia. Ia melakukan penelitian selama bertahun-tahun untuk menciptakan benih padi unggul Sertani.

Surono Danu hanyalah satu dari sekian banyak putra bangsa berprestasi yang berkontibusi untuk negeri.

Ketiga, pemerintah ke depan diharapkan mampu dan bersungguh-sungguh untuk mengontrol, memotivasi dan menomorsatukan program swasembada pangan ini. Idealnya, bangsa kita tidak perlu lalu melakukan impor beras, impor gula dan bahan pangan lain yang dapat diproduksi di dalam negeri sendiri.
Sudah saatnya kita berdaya di negeri sendiri.

Keempat, lakukan gerakan pulang ke desa.

Hingga hari ini, urbanisasi masih sangat deras terjadi. Mengutip laman kontan.co.id, (3 Oktober 2019), bank dunia memproyeksi bahwa 220 juta penduduk Indonesia akan tinggal di kota-kota besar dan kecil pada tahun 2045.

Hal ini memberikan gambaran pada kita bahwa, urbanisasi di Indonesia akan terus meningkat dari saat ini setara 56% menjadi 70% dari total populasi secara keseluruhan 25 tahun ke depan.

Dengan momentum pandemi ini, saya melihat, ada baiknya pemerintah memberikan perhatian yang lebih besar lagi pada permasalahan sebaran penduduk ini. Karena saya yakin hari ini, masyarakat yang tinggal di kota kemungkinan besar akan lebih merasakan dampak negatif secara ekonomi.

Terjadinya PHK, dan lain-lain membuat sumber pemasukan keluarga terhenti. Sedangkan di desa, kondisinya saya yakin sedikit lebih stabil, minimal untuk kebutuhan pangan, mereka bisa mengkonsumsi tanaman yang ada di kebun, di sawah, ladang dan sebagainya. Untuk kebutuhan protein, masyarakat bisa langsung memancing ikan di sungai atau di danau. Sumberdaya sangat berlimpah di desa.

Sehingga gerakan pulang ke desa, diharapkan mampu membuat pertumbuhan ekonomi, pendidikan, dan pembangunan menjadi lebih merata di seluruh Indonesia.

Hal ini tentu saja butuh kesungguhan dari pemerintah. Edukasi, fasilitasi dan lain lain-lain terkait gerakan pulang ke desa ini harus dimaksimalkan.

Saya yakin dan percaya, negara kita yang seperti surga ini akan bisa menjadi negara sejahtera. Jika semua pihak yang terlibat, mau mencoba dan bersungguh-sungguh memberdayakan SDM dan SDA yang ada untuk kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

Tulisan ini pernah dimuat di media detikindonesia.co

*Penulis adalah Pegiat Rumah Produktif Indonesia dan Founder Komunitas fotografi Mamoto yang berdomisili di Kota Padang

Share :

Baca Juga

Jelajah

Nasib Museum Rempah di Masa Pandemi (Refleksi Hari Museum Internasional)
Basri Amin (istimewa)

Opini

Kemenangan dan Kebenaran

Opini

Banjir
Yanuardi Syukur (istimewa)

Opini

Ada Apa dengan Om Anca? 
https://id.pinterest.com

Opini

Tentang Menikah dan Punya Anak, Sebuah Pertimbangan Kritis

Opini

Penerapan PSBR dan Surat Pemberitahuan dari Optik Hukum serta Dampak Sosial
Marisa Limun

Opini

Rekonsiliasi Gerakan Perempuan Pasca Reformasi

Opini

Masyarakat Melambat