Home / Jelajah / Opini

Senin, 18 Mei 2020 - 04:45 WIB

Nasib Museum Rempah di Masa Pandemi (Refleksi Hari Museum Internasional)

Penulis saat melakukan konservasi koleksi di Museum Rempah | Foto: (ISTIMEWA)

Penulis saat melakukan konservasi koleksi di Museum Rempah | Foto: (ISTIMEWA)

Oleh: Rinto Taib*

Semenjak libur resmi dua bulan lalu akibat mewabahnya pandemi global Covid-19, Museum Rempah-rempah yang terletak dalam Benteng Oranje Ternate resmi ditutup untuk umum.

Penutupan ini tidak serta merta menghentikan upaya-upaya kami untuk melakukan kegiatan perawatan dan pemeliharaan terhadap berbagai koleksi yang telah berusia puluhan hingga ratusan tahun tersebut. Baik yang berbahan logam, kayu, batu hingga kertas (manuskrip). Berbagai koleksi tersebut ditempatkan secara baik dalam vitrin di ruang tertutup maupun tergeletak diruang terbuka.

Minimnya tenaga teknis seperti konservator maupun kurator tidak menjadi alasan atau penghalang untuk terus melakukan upaya perawatan dan pemeliharaan secara bersamaan. Bermodalkan pengalaman pribadi dalam mengikuti berbagai pelatihan yang diselenggarakan berbagai pihak, baik dalam negeri maupun luar negeri cukuplah menjadi modal untuk mengerjakan berbagai aktivitas tersebut secara bersamaan, layaknya seorang konservator sekaligus kurator. Selain melayani para pengunjung yang memanfaatkan waktu liburan panjang selama pandemi berlangsung.

Salah satu koleksi yang sedang dilakukan upaya konservasi oleh penulis | foto:Andsar El Mabus Saroden

Tidak Semua pengunjung memiliki niat baik untuk belajar atau bernostalgia dengan sejarah masa lalu melalui koleksi dan bangunan kolonial Belanda yang terdapat di dalam Benteng Oranje ini.

Penulis saat menjelaskan ikhwal manajemen konservasi koleksi Museum kepada para pengunjung di masa Pandemi Covid-19 | Foto:Andsar El Mabus Saroden

Sebagian diantaranya, justru melakukan aksi kejahatan dengan berusaha mencuri dengan memanfaatkan masa liburan panjang dan kesunyian dalam benteng tersebut. Penjagaan oleh Satpol PP maupun pengawasan Juru Pelihara ternyata tak menjamin keselamatan dan keamanan dalam benteng ini. Para pencuri beberapa kali selamat dari sergapan dengan cara melompat dinding/tembok benteng yang lumayan tinggi tersebut.

Baca juga  Melawan Covid Dengan Sedekah Kata

Tak hanya seorang diri, pernah dikejar segerobolan pencuri yang nampak “rapi” dalam melancarkan aksinya. Selain ditemukan alat-alat “operasi” mereka yang terdiri dari linggis, palu dan sejumlah perkakas lainnya, dipersiapkan pula kendaraan yang mereka tempatkan pada lokasi yang dianggap strategis untuk melarikan diri saat dikejar. Seorang pria berusia sekitar belasan tahun terpaksa melarikan diri dengan menabrak palang (sepotong kayu) yang kami halangi di pintu masuk benteng tepat pos jaga yang kebetulan sepi dari biasanya oleh penjagaan Satpol PP pada Sabtu, (16/5) pukul 13.20 siang kemarin. Pria tersebut sepertinya ingin memastikan kondisi keamanan sebelum akan melancarkan aksinya, dikiranya tak ada orang berhubung siang hari masa liburan libur dan akhir pekan di bulan suci Ramadhan.

Setidaknya, ini menjadi pelajaran penting untuk lebih mewaspadai niat buruk pengunjung serta aksi kejahatan lainnya di tempat bersejarah ini. Memanfaatkan situasi pandemi yang mewajibkan semua orang menggunakan masker, pria tersebut seolah berusaha menundukkan wajahnya agar tak mudah kami kenali, namun pria tersebut sebelumnya pernah dikejar karena berhasil masuk dalam salah satu gedung yang terkunci melalui jendela dan kemudian berhasil kabur melompati dinding bangunan benteng hingga nyaris terperosok kedalam kanal. Namun akhirnya selamat dengan cepat berlari menuju sebuah kendaraan roda dua yang telah dipersiapkan olehnya.

Baca juga  Kodim 1505/Tidore Gelar Sosialisasi Antisipasi Balatkom dan Paham Radikal untuk Keselamatan NKRI

Berbagai aksi kejahatan seperti ini pernah beberapa kali digagalkan oleh Juru Pelihara maupun Satpol PP yang bertugas penjagaan di dalam benteng. Namun seolah tak menyurutkan niat mereka untuk tetap melancarkan aksinya. Dari aksi pencurian, menghisap lem, pengrusakan fasilitas hingga perbuatan asusila (mesum). Semuanya ini tentu memerlukan perhatian lebih dari berbagai pihak. Minimnya perhatian bersama kita akan berdampak secara luas seperti vandalisme (pengrusakan) yang semakin merajalela ataupun pencurian koleksi bernilai sejarah di kawasan ini.

Pencurian koleksi museum sesungguhnya bukanlah hal baru, bahkan sekelas Museum Nasional sekalipun pernah mengalami kejadian serupa dimana sebuah koleksi ditukarkan dengan duplikat yang menyerupai ‘nyaris’ persis sama.

Kasus lainnya adalah resiko bencana kebakaran yang dialami museum seperti yang pernah terjadi di Museum Bahari di Jakarta. Oleh karenanya, diperlukan peran dan keberpihakan kita secara bersama baik pemerintah maupun masyarakat dalam upaya pelestarian dan perlindungan Cagar Budaya Nasional dikawasan ini.

Pemerintah berperan membuat perencanaan program yang berbasis pada penguatan kelembagaan serta peningkatan upaya pelestarian dan salah satunya adalah melalui strategi pendanaan sebagai kuncinya, termasuk didalamnya pendanaan keamanan seperti menempatkan TNI atau polisi (pariwisata) dalam kawasan tersebut, serta memperhatikan manajemen resiko kebencanaan baik bencana alam maupun non alam, termasuk jerjangkitnya koleksi dari pandemi Covid-19 yang menjadi ancaman global saat ini.

*Kepala Museum Rempah-Rempah Kota Ternate

Share :

Baca Juga

Jelajah

Bahaya Ilegal Fishing, Kepulauan Widi Harus Serius diperhatikan Pemerintah
https://id.pinterest.com

Opini

Tentang Menikah dan Punya Anak, Sebuah Pertimbangan Kritis

Opini

Tidore Membutuhkan BAGUS

Opini

Psikologi dan Psikiatri sebagai Pseudosains

Opini

Terorisme, Covid 19 dan Tragedi Kemanusiaan

Opini

Banjir

Opini

Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial

Opini

Refleksi 71 Tahun Mosi Integral, Mohammad Natsir Adalah Bapak Pendiri Republik