Home / Opini / Tokoh

Rabu, 3 Juni 2020 - 17:36 WIB

Om Uyung dan Beberapa Pelajaran

alm. Om Uyung (ISTIMEWA)

alm. Om Uyung (ISTIMEWA)

Oleh: Sofyan Daud*

Kematian, seperti saat seorang penyair membubuhi tanda titik pada akhir kalimat sajaknya — Leila S. Chudori menulis larik ini dalam puisinya, “Laut Bercerita”

Tetapi, “titik” itu tidak selalu menjadi akhir sajak untuk semua orang. Ada yang kematiannya justru menjadi semacam “koma”. Cerita tentangnya, justru terkuat, lebih diketahui khalayak setelah hari kematiannya.

Om Uyung. Entah kapan persisnya beliau mulai betah di persimpangan itu. Berinisiatif membantu mengatur lalu lintas. Seingat saya, mungkin juga Anda, itu berlangsung lebih dari 3 dekade, sebelum usia dan sakit memintanya jeda, lantas ajal menghentikannya. Tetapi selain cerita dan kenangan yang ditinggalnya, ada juga beberapa pelajaran di sana.

Terlahir dalam lingkungan trah kesultanan Bacan, Om Uyung diberi nama Dede Buyung Asrul bin Dede Hud bin Muhammad Usman Sjah.

Kakek Om Uyung adalah Sultan Bacan, 1900-1917. Pamannya, Dede Muchsin Usman Sjah, Sultan Bacan sesudah mendiang Usman Sjah, adalah juga Residen ketiga Ternate, yang menjabat 1957-1958, menggantikan Residen kedua Sultan Tidore, Zainal Abidin Sjah. Adapun Residen pertama adalah Sultan Ternate, Iskandar M. Djabir Sjah.

Di sini Om Uyung memulai lembaran pelajaran pertamanya, tentang kesederhanaan, kebersahajaan, keapadanyaan.

Siapa nyana nasab lelaki pelopor sadar lalulintas ini adalah seorang bergelar “Dede”, gelar bangsawan. Ia bahkan keturunan langsung dari Sultan Bacan. Tetapi kesehariannya — lepas dari rencana dan ketetapan kodrati Tuhan atasnya — kehidupannya seperti orang kebanyakan.

Dedikasi murni, dalam kurun panjang, yang entah bagaimana mulanya juga entah untuk tujuan apa. Hanya Tuhan dan almarhum yang tahu. Tetapi lakon dedikatif tanpa pamrih yang disetiainya sedemikian rupa itu, tersimpan dalam memori kolektif ribuan orang dan oleh generasi tiga zaman, barangkali.

Bentuk pengabdian yang muskil mampu dilakoni sepenuh setia oleh mereka atau kita-kita yang digaji dan ditunjang rupa-rupa fasilitas oleh Negara yang sejatinya oleh rakyat.

Dedikasi tanpa pamrih dan kesetiaan tanpa sensasi, adalah pelajaran hikmah kedua dari Om Uyung, almarhum.

Lebih tiga dekade. Bayangkan saja. Beliau setia di sana tanpa perlu pengakuan apapun juga. Tak menuntut sehelai “bisluit” tanda keabsahan statusnya, gaji atau honor, apalagi tunjangan. Siapa lagi yang bisa dan mampu begitu, selain beliau?

Baca juga  Hadist Nabi, Joe Biden, & Dinamika Politik AS; Posisi Minoritas di Tengah Mayoritas

Saya pada 1994 hingga 1999 juga belajar dan berekspresi, pun mengajak ribuan mahasiswa di Ternate, belajar dan berekspresi di area ini: Ngara Lamo. Om Uyung telah di sana waktu itu. Bahkan jauh sebelum tahun-tahun itu. Ketika persimpangan itu masih berupa simpang tiga yang beraspal. Ruas jalannya masih sempit. Sunyie Ici dan Ake Santosa masih tanah lapang kecil, landai dan terbuka tanpa pagar pengaman juga gerbang. Gedung Ngara Lamo masih gedung lama, di depannya terdapat akses jalan tanah menurun ke lapangan. Sepokok pohon tinggi, persis di kiri jalan, di pojokan lapangan.

Om Uyung telah di sana jauh sebelum tugu Adipura itu dibangun, sebelum kelahiran ribuan anak-anak milineal yang mengenalnya belakangan ini, dan yang turut berdukacita saat beliau sakit, terlebih lagi saat beliau wafat.

Konsistensi adalah ajaran hikmah ketiga dari Om Uyung. Sikap dan perilaku terpuji yang kini langka dijumpai dalam keseharian kita, terutama dalam ruang politik, praktik kekuasaan dan tarung kelihaian di dunia usaha.

Om Uyung adalah ikon di persimpangan ini. Ia seakan hendak meneguhkan, melestarikan spirit dan dedikasi luhur warisan dari para leluhur yang terrepresentasi oleh keraton Kesultanan Ternate sebagai simbol kebudayaan juga kearifan tua jazirah ini.

Ia seakan ingin bercerita kepada generasi selama lebih tiga dekade, bahwa di titik tempat ia berdiri dan berdidikasi penuh setia dan konsisten, adalah titik persilangan yang bukan saja ramai tetapi telah eksis bahkan maju sejak permulaan abad ke 17 atau sejak awal 1600an.

Simpang jalan di Soasio itu, tempat di mana Om Uyung mewakafkan lebih dari separuh waktu dan usianya, memang landmark Ternate sejak abad ke 17. Epicenter Kota Ternate sesungguhnya.

Di area ini, Keraton Ternate dengan Ngara lamo (gerbang utama), Sunyie Ici (taman keraton) dan Sunyie Lamo (alun-alun keraton), Dodoku Mari (Dodoku Ali), Sigi Lamo (Masjid Kesultanan) terkosentrasi dalam suatu kawasan yang kompak dan fungsional. Suatu penanda eksistensi Ternate sebagai kota praindustri maju dengan ruang yang apik sejak abad itu.

Persimpangan ini menjadi akses bagi siklus dan sirkulasi manusia dan kebudayaan. Berabad aktivitas yang secara langsung dan tidak langsung turut membentuk atau menyepuh eksistensi Ternate menjadi kota yang eksis, maju, majemuk, melalui asimilisasi, kontak budaya pun pengetahuan.

Baca juga  Kebudayaan, Makna Batiniah, dan Tulisan

Terpikir oleh saya, dengan kodrat keterbelakangan mental yang dianugerahi Allah SWT kepada Om Uyung, ada anugerah tersembunyi yang sebenarnya merupakan kekuatan mental — yang nyata lebih baik dari yang sebagian besar kita miliki, meski kita disebut-sebut atau menyebutkan diri orang-orang yang tak memiliki keterbelakangan mental.

Sekali lagi, ada kekuatan mental dan kearifan dalam hidup Om Uyung. Itulah mengapa, dalam relung terdalam hati kita, disadari atau pun tidak, kita sebenarnya, mengakui, menghormati, mengagumi kebiasaan baik almarhum, yang terekspresi dari kekuatan mental, moral dan kearifannya itu. Sungguh itu respek yang tulus dan semestinya.

Ego, perasaan hebat, keyakinan terpelajar pada kita, perasaan waras kita, perasaan keunggulan mental kita dibandingkan dengan Om Uyung. Tak akan mampu memungkiri pengakuan kita yang tersembunyi di kedalaman qalb, di ruang termurni yang dapat disebut ruang inti nurani. Tempat dimana ketidakjujuran mustahil unggul. Segala pikiran puja-puji yang manipulatif dipastikan lumpuh.

Itulah mengapa, masa sakit Om Uyung mengundang simpati dan empati tak biasa. Tinggi. Seakan beliau orang penting. Itu tak terjadi begitu saja, ada pancaran aura atau atmosfir nilai dari sosok Om Uyung, dibandingkan dengan mereka lainnya yang memiliki kondisi mirip dengannya.

Kepergian abadi Om Uyung, demikian juga, menjadi dukacita dan rasa kehilangan yang tak biasa. Begitu berderajat. Lihat saja hadirin yang melayat. Lantas, doa, belasungkawa dengan ragam ekspresi kehilangan dan penghormatan terakhir kepadanya, bertebaran di halaman media juga platform media sosial.

Mengapa bisa? Ya, karna Om Uyung memang salah seorang guru kearifan yang pernah kita kenal, kita tahu. Hanya saja kita jarang menyadarinya.

Selamat jalan Om Uyung. Kami kehilanganmu, guru kehidupan yang pendiam dan mungkin juga kesepian. Insya Allah Om Uyung husnul khatimah.

Duhai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai olehNya. Allahumma aamiin.

*Budayawan, Pimpinan Komunitas Garasi Genta, anggota DPRD Provinsi Maluku Utara

Share :

Baca Juga

Opini

Terorisme, Covid 19 dan Tragedi Kemanusiaan

Opini

Peran Medsos Dalam Politik di Era Covid-19

Opini

Cinta yang Menindas
Risman A.M Djen (Sekretaris LSM Jong Halmahera)

Opini

Optimisme dan Pemulihan Ekonomi Halmahera Barat
Basri Amin

Opini

Homo Academicus
Hasanuddin Arbi

Opini

Toleransi: Penghargaan atas Perbedaan

Opini

Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial

Opini

Bijaksana Saat “Dipaksa Jeda”