Home / Kabar

Sabtu, 6 Juni 2020 - 07:58 WIB

Pemimpin dan Nalar Ekologis

Nurcholish Rustam (Juru Bicara MPC Pemuda Pancasila Kota Ternate)

Nurcholish Rustam (Juru Bicara MPC Pemuda Pancasila Kota Ternate)

Oleh: Nurcholish Rustam

Dunia baru saja merayakan Hari Lingkungan Hidup, tepatnya 5 Juni 2020. Namun, krisis lingkungan nampaknya semakin nyata. Bukan hanya krisis lingkungan yang distimulasi oleh aktivitas manusia. Semisal polusi dan perubahan iklim karena efek rumah kaca. Tapi, juga ketidakmampuan mengantisipasi dan menangani dampak bencana alam.

Tahun 2017 dan 2019 boleh dikatakan sebagai tahun politik, gelombang penyelenggaraan pesta demokrasi ini bertujuan menyamakan siklus PILKADA dan periode pemerintahan kepala daerah se-Indonesia. Sekarang kita berada di tahapan Pilkada serentak 2020 yang akan dilaksanakan di beberapa Provinsi dan Kabupaten/Kota, tentu ini bukan pengalaman pertama kita melaksanakan Pilkada langsung. Selain kita dihadapkan pada situasi yang sulit didepan mata, yakni bencana non alam atau Covid19.

Hiruk pikuk kancah perpolitikan sering membuat kita lupa akan ancaman yang bisa saja memupus kehidupan kita setiap saat, euforia dan senyuman calon pimpinan daerah tidak dirasakan oleh saudara-saudara kita yang tertimpa bencana ekologis, mereka harus kehilangan harta benda, bahkan nyawa. Kebakaran lahan dan hutan, banjir, longsor, kekeringan, pencemaran limbah, dan lain sebagainya seakan tidak mau lepas dari kehidupan kita, mereka berkembang seiring dinamika kehidupan manusia, berdampak kumulatif dengan gejala-gejala yang terkadang luput dari pantauan. Sehingga pada akhirnya, upaya kuratif nan boros sumber daya menjadi pilihan.

Bencana ekologis semakin diperparah dengan buruknya mental pimpinan daerah, khususnya korupsi, sebagaimana pernah disampaikan oleh Prof. Dr. T. Jacob, Guru Besar Antropologi Universitas Gajah Mada, bahwa kekacauan politik, tiadanya kepastian hukum, berikut penegakannya yang tidak tegak-tegak juga, membuat para pencuri (kleptokrat) bergentayangan di segala lapisan lini kehidupan, menjadi suatu tragedi yang beliau sebut “Tragedi Negara Kesatuan Kleptokratis”. 

Prof. Dr. Hariadi Kartodihardjo, guru besar kebijakan kehutanan Institut Pertanian Bogor, dalam salah satu orasi ilmiahnya pernah menyampaikan tentang pentingnya posisi cara berpikir dalam menelusuri sebab berbagai permasalahan lingkungan dan SDA yang terjadi selama ini, karena perubahan tindakan secara mendasar hampir mustahil dapat dilakukan tanpa perubahan cara berpikir. Saya setuju dengan pendapat beliau, dalam konteks hari ini, kita bisa melihat suatu ironi, bagaimana cara berpikir yang dipadu dengan ilmu pengetahuan dan narasi kebijakan telah banyak disalahgunakan untuk menjamin kepentingan individu dan kelompok. Pada akhirnya, kembali rakyat yang harus menanggung akibatnya.

Baca juga  Dilema Santri Intelektual

Cara berpikir yang mengedepankan prinsip-prinsip ekologis, atau nalar ekologis, dalam setiap perencanaan maupun pelaksanaan proses pembangunan mutlak diperlukan. Tantangan terbesar adalah munculnya situasi dilematis mengenai kontestasi ekonomi dan ekologi, di satu sisi kita harus menggesa proses pembangunan, tapi di sisi lain, kelestarian lingkungan hidup telah nyata dikorbankan. Diperlukan pemimpin moderat dengan keteguhan dan integritas yang kuat. Lewat bukunya yang berjudul “Curse to Blessing”, Prof. Rhenald Kasali, Ph.D, guru besar manajemen Universitas Indonesia, menggugah kesadaran kita bahwa faktor kepemimpinan yang kuat mampu membawa masyarakat pada konsep pembangunan berkelanjutan. Beliau memaparkan fenomena kutukan sumber daya alam yang terjadi pada daerah atau Negara yang kaya sumber daya alam, ditandai dengan pertumbuhan perekonomian mereka yang tidak semaju daerah atau Negara yang tidak memiliki kekayaan alam. Bahkan kekayaan alam yang dimiliki justru membawa masyarakat dalam kondisi penuh konflik dan hidup miskin. Sebagai contoh daerah-daerah yang kaya sumber daya alam, seperti penghasil batubara di Kalimantan, atau Emas dan nikel di Halmahera dan Pulau Obi, justru berada dalam gelombang kemiskinan. Bahkan daerah yang walaupun lumbung energi, kondisi listriknya tidak bisa diandalkan untuk terus menyala 24 jam.

Revitalisasi Tugas Kepemimpinan

Jika kediktatoran mempunyai rekor buruk dalam masalah lingkungan, demokrasi liberal juga gagal menyelamatkan bumi, kata David Shearman dan Joseph Wayne Smith. Demokrasi liberal dengan fondasi dasar kebebasan individu tidak menyelamatkan jika tidak ada kesadaran, keadilan dan tanggung jawab global. Karena itu, kita harus berprinsip “the world is my country”, kata Ronnie Lipschutz dalam Global Environmental Politics (2005).

Inilah sebenarnya konsep kepemimpinan terhadap alam, yakni kesadaran untuk memakmurkan dunia. Karena itu, menjadikan dunia tempat yang nyaman dihuni adalah bagian esensi tugas pemimpin dan juga kemanusiaan. Ketiadaan kesadaran, keadilan dan tanggung jawab global merupakan pokok pangkal permasalahan lingkungan. Bahkan, lebih jauh, menuju dunia yang berkeadilan dan berkemakmuran merupakan panggilan agama.

Baca juga  Kodim 1505/Tidore Gelar Sosialisasi Antisipasi Balatkom dan Paham Radikal untuk Keselamatan NKRI

Sebagai panggilan tugas kemanusiaan dan agama, masyarakat beragama harus mengambil inisiatif dalam menginisiasi hidup bersahabat dengan alam. Sayangnya, kenyataan menunjukkan hal yang bertolak belakang. Pengelolaan lingkungan di negara-negara yang notabene mengagungkan nilai agama bisa dikatakan bangkrut. Indonesia, sebagai contoh nyata. Sangat tertinggal dalam konsep penataan lingkungan. Eksploitasi tak terkendali sumber daya alam sangat berdampak buruk pada masa depan bangsa ini. Termasuk lingkungan hidupnya.

Kita harus mampu menembus ruang waktu untuk mendesain kondisi masa datang. Perspektif jangka pendek hanya akan membuat beban berat di pundak generasi setelah kita. Kita sudah cukup merasakan bagaimana kesalahan manajemen bangsa pada masa lalu harus kita pikul pada saat ini. Semoga kedepan kepemimpinan ditangan anak muda mampu membawa angin segar dalam kepedulian soal lingkungan.

Oleh karena itu, dengan momentum Hari Lingkungan Hidup se-Dunia atau World Environment Day, saat dimana rakyat disodorkan oleh berbagai pilihan, nalar ekologis seorang pemimpin dapat digugah dan memunculkan keinginan yang kuat untuk mewujudkannya. Kita sangat memerlukan pemimpin yang memiliki komitmen dan konsisten terhadap penyelesaian permasalahan lingkungan hidup. Pemimpin yang mampu mengakomodasi preferensi komunal yang menginginkan keharmonisan hidup, vertikal maupun horizontal. Mari kita kembali merenungkan tugas dan fungsi masing-masing kita, sesuai dengan relung dan amanat, baik sebagai insan profesi, lebih-lebih kesadaran sebagai manusia yang seutuhnya. Berbagai regulasi sudah disusun dengan niat baik, masyarakat sebagai aktor utama sudah mulai mendapat tempat di dalamnya. Tinggal bagaimana kita mampu menjaga kesucian dan niat tulus untuk berbuat sebaik-baiknya demi kelestarian lingkungan kita. Kalau kesadaran ini sudah tertanam permanen di diri kita, tentu tidak perlu kita melaksanakan saran KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) yang di dalam salah satu ceramahnya pernah menyampaikan sindiran bahwa “kalau Indonesia mau berubah, masing-masing kepalanya mesti dicopot, dan diganti dengan kepala yang baru”. Mari kita berbuat untuk daerah kita dan Indonesia yang lebih baik.

Selamat Hari Lingkungan Hidup se-Dunia, 5 Juni 2020. Salam Lestari.

*Penulis Merupakan Juru Bicara MPC Pemuda Pancasila Kota Ternate

Share :

Baca Juga

Jalan-Jalan Virtual ke Daratan Eropa oleh RPI English School

Kabar

Jalan-Jalan Virtual, RPI English School Melanglang Buana ke Seantero Eropa
Wakil Wali Kota Tidore Kepualauan Muhammad Sinen, SE saat memberikan sambutan pada Pembukaan Rapat Kerja Daerah Tahun 2020 di Aula Sultan Nuku

Kabar

Pemkot Tidore Gelar Rakerda Pelayanan Publik dan Birokrasi
AMCF melalui Kapal Kemanusian 02 Malut foto bersama dengan penerima, Camat dan Lurah

Kabar

Selesai Dibangun, AMCF melalui Kapal Kemanusiaan 02 Malut Serahkan Bantuan RUD ke Penerima

Kabar

Ternyata Penutupan Akses Dari dan Ke Tidore Tidak Untuk Pelabuhan ini
Remote Learning - Pembelajaran Jarak Jauh oleh AIMEP

Akademika

Mutiara Pandemik: Mengikat Makna PJJ di Australia dan Indonesia

Kabar

Serahkan Bantuan APD, Achmad Hatari digadang-gadang Pimpin NasDem Maluku Utara
KPU Tidore

Kabar

KPU Kota Tidore Buka Posko ASIDA Tanggapan Publik Atas DPS

Kabar

Pemkot Bakal Lakukan Rapid Test Massal