Home / Opini

Rabu, 24 Juni 2020 - 20:47 WIB

Perempuan Penggerak Zaman

Oleh: Basri Amin (Partner di Voice of Hale˜Hepu)

“DUA orang perempuan menggerakkan orang banyak. Kesadaran mereka beroleh terang. Panggilan kemanusiaan yang tengah goyah tiba-tiba beroleh aliran nafas baru.”

Begitulah yang dikerjakan oleh Aima (18 tahun) dan Tash (21 tahun). Kedua remaja (perempuan) ini adalah penggerak dan pemicu unjuk-rasa terbesar dalam sejarah (kota) London di abad ini. Tepat di hari Ahad, 31 Mei 2020 (The Gurdian, 1/6).

Saya menyaksikan karakter Aima, dengan nada suaranya yang khas, melalui saluran CNN. Di sebuah wawancara live, Aima tampil dengan cerdas dan cermat. Ia cerdas karena spontan mengutarakan pandangan dan pengalaman generasinya dengan bahasa lisan yang encer dan aura rasa yang cair. Ia juga cermat karena di waktu yang sempit ia berhasil menyuarakan cita-cita besarnya di tengah-tengah gelombang protes dunia tentang rasialisme.

Naima sangat lantang menyatakan bahwa “Amerika dan Inggris sama saja dalam perkara ketidakadilan polisi terhadap warga “kulit hitam”. Saya menyimak dengan takzim dan kagum wawancara Naima tersebut. Sangat unik karena ia punya gagasan yang membumi: “do something!”.

Naima adalah sebuah contoh bagaimana kesadaran terpandu pengalaman dan pengetahuan yang cukup. Ia tumbuh-mekar di sebuah negara demokratis dengan sejarah konstitusionalnya yang panjang. Kita juga menyaksikan bagaimana “cekcok yang cerdas” diorganisir oleh publik/warga  dikawal dan dibela oleh media yang bebas dan terbuka. Lebih jauh, Naima menandaskan bahwa “generasinya mengubah sejarah. Harus berbuat sesuatu. Mereka tidak akan berhenti sebelum perubahan menjadi nyata”.

Ribuan orang menyatu karena “emosi universal” yang sama, melalui getaran suara yang menggerakkan jawaban-jawaban (keadilan) yang mendamaikan. Warna kulit tidak jadi “kambing hitam”; suara mereka adalah suara (universal) bagi semua orang/kelompok. Sistem bernegara dan bertata-masyarakatlah yang mereka luruskan. Menuntut “persamaan perlakuan” adalah kata-kunci aspirasinya.

Media sosial terbukti memediasi perubahan. Dengan hashtag yang Tash (21 tahun, pelajar di London) dan Naima (18 tahun, remaja migrant dari Nigeria) populerkan #LDNBLM, gerakan turun kejalan membesar di Britania Raya.

Ribuan orang melewati Sungai Thames, bersuara di depan gedung Parlemen (di Westminster), di depan Kantor Perdana menteri (di Downing Street), juga melaju-berteriak di depan Kedutaan Amerika di London. Di kota-kota utama Inggris lainnya (Manchester, Nottingham, Cardiff, Birmingham, Bristol, dll) juga bergerak dengan isu yang sama.

Baca juga  Om Uyung dan Beberapa Pelajaran

Naima sendiri adalah imigran dari Nigeria. Sejak berusia 10 tahun ia tinggal di Inggris dan, menurut pengakuannya, diskriminasi rasial ia rasakan nyaris setiap hari. Kepada Polisi, Naima bahkan menyatakan ada “rasisme institusional” polisi di Inggris, sama dengan di Amerika. Kepada media, berulang-ulang Naima menyatakan bahwa “ia telah mempelajari bagaimana rasisme institusi polisi ini berlangsung. Ia hendak mengubah sesuatu!” (The Sun, 2/6).

Inggris sendiri adalah negara yang mempunyai sejarah multi-etnis dan multi-ras yang tinggi. Tercatat sekitar 54% warga Inggris adalah berdarah campuran, sebagaimana tampak di beberapa wilayah (pemukiman) yang dominan Kulit Hitam dan Asia. Saat ini, penting dicatat bahwa korban pandemi “Covid 19” banyak menelan korban di wilayah (kelompok ‘minoritas’) tersebut; tercatat sekitar 953 orang meninggal (16%) di kawasan BAME (Black, Asian and Minority), dari total kematian 5.956 orang di kota London sejak Maret 2020 (The Guardian, 1/6); MailOnline-News, 3/6).

Aima yang beroleh julukan dari media sebagai “young black queen”, ketika berorasi di London, berkata-kata seperti ini: “The reason that I’m out here is that I’m scared for all my brothers and sisters. I want us all to spread the message that our lives bloody matter, black lives matter. And I’m tired of all the abuse and harassment and brutality from the police.’ Jelas sekali, Polisi sangat disudutkan dan, tampaknya, di sektor itulah (kita) berharap perlakuan keadilan akan membaik di Inggris maupun di Amerika, juga di bagian-bagian lain di planet ini.

Pada skala global, kiprah perempuan semakin kuat. Serangan Covid-19 di negara-negara yang dipimpin perempuan disikapi dengan langkah-langkah efektif. Kepercayaan publik kepada pemerintah dan operasi organisasinya yang sukses mengendalikan pandemi terbukti berbading lurus dengan pendekatan kepemimpinan dan gaya komunikasi yang diterapkan. Simpulan ini dibuktikan Perdana Menteri (PM) Selandia Baru (Jacinda Ardern), Kanselir Jerman (Angela Merkel), PM Finlandia (Sanna Marin), Presiden Norwegia (Erna Solberg) dan Presiden Taiwan (Tsai Ing-wen).

Baca juga  Kemenangan dan Kebenaran

Bukan karena posisi terutama, tapi kapasitas, jejak-hidup dan visi kerja tokoh perempuan ini yang amat menentukan. PM Sanna Martin adalah Master di bidang Administrasi. Kanselir Angela Merkel adalah doktor kimia kuantum, lulusan terbaik matematika dan menguasai beberapa bahasa Asing. Lain lagi dengan Presiden Tsai Ing-wen (Taiwan), dia lulusan ilmu hukum Universitas Cornell, U.S. dan LSE di London. Adapun PM Selandia Baru, Jacinda Ardern adalah mantan aktivis mahasiswa dan sarjana Public Relations. PM Norwegia, Erna Solberg, sejak awal adalah aktivis muda politik dan sarjana bidang sosiologi, statitistik ekonomi dan ilmu politik.

Perempuan semakin (terbukti) mewarnai sejarah. Tidak jarang, perannya dalam perubahan besar memaksa ukuran-ukuran baru. Rujukan lama, meski tetap berlaku, tapi penampakannya akan mengubah  karakter bersama ketika perempuan  berada di depan (panggilan) zaman.

Pada periode yang cukup panjang, perintah (komando) dan pengendalian (kontrol) menentukan kepemimpinan. Tapi di abad ini, gradasi perubahan sudah bergeser jauh. Karakter pemimpin perempuan, menurut banyak observasi dan penemuan, terletak pada kemampuannya menggerakan “kecerdasan bersama” yang tumbuh-aktif –-kendati berserakan di banyak ruang– di masyarakat.

Perempuan meng-aktivasi sumberdaya lain yang tampaknya sangat relevan di masa krisis atau perubahan yang transformatif. Apa itu? Adalah daya tahan (kesabaran), fleksibilitasempati dan ‘pendengaran’ yang intens, bahasa kebajikan, kepedulian (caring), rendah hati, percaya kepada akal-sehat kolektif, dan kolaborasi yang menghargai ‘kontribusi bersama’ (WEF, 2020).

Ironinya, di alam praktis, perempuan seringkali “tertawan” dalam prasangka dan stigma lama. Bahkan teramat sering dilekatkan padanya sebagai “penyebab” segala kejatuhan, kenistaan, dan kejahatan. Setali tiga uang: tahta, harta, wanita!. Kekotoran dan kenistaan meledak di banyak (kebesaran) bangsa karena “godaan” perempuan.

Perubahan tak akan terhalangi oleh retorika dan sorakan yang egois, dari orang-orang yang “pintar tapi pandir”. Perbaikan tak akan mampu ditunda oleh kawanan pecundang dan penyembah status quo. Perubahan hanya mungkin berbuah di tangan orang-orang yang sudah “selesai dengan dirinya sendiri…”. Temukanlah perempuan-pemimpin seperti itu.

Penulis adalah Anggota Indonesia Social Justice Network (ISJN) E-mail: basriamin@gmail.com

Share :

Baca Juga

https://id.lovepik.com/image-401428302/brain.html

Opini

Wabah Kesempitan Berpikir

Opini

Viral-Viral Kita
Risman A.M Djen (Sekretaris LSM Jong Halmahera)

Opini

Optimisme dan Pemulihan Ekonomi Halmahera Barat

Opini

Kursi

Opini

Banjir

Opini

Melawan Covid Dengan Sedekah Kata
Reza A.A Wattimena

Opini

“Hollgemoni”: Senjata Terkuat di Dunia
Prof.Dr.HM.Rasyidi

Opini

Pahlawan Nasional untuk Profesor Rasyidi