Home / Opini

Rabu, 16 September 2020 - 12:18 WIB

Tidore Membutuhkan BAGUS

Oleh: Arino Ridwan

India saat ini merupakan kekuatan baru dalam revolusi ekonomi dan teknologi. Dengan penduduk mencapai 800 juta jiwa yang berusia di bawah 35 tahun, India menjadi kekuatan penting di panggung global. Dalam posisi yang penting ini, secara mengejutkan muncul pemimpin baru yang berasal dari tempat yang tak diduga oleh para pengamat politik kelas dunia sekalipun. Itulah yang ditulis oleh Lance Price seorang jurnalis dan komentator politik Inggris dalam bukunya “Narendra Modi Jelata Yang Meruntuhkan Dominasi Politik Elitis”.

Tentu, apa yang dicapai oleh India saat ini, berkat visi yang dimiliki oleh Narendra Modi yang merupakan Perdana Menteri baru India. Jika di telusuri, Narendra Modi berasal dari kasta yang paling bawah, yang memiliki ambisi besar untuk memajukan India, meskipun Modi tahu bahwa lawan yang dihadapi berasal dari partai besar dan berasal dari Dinasti Nehru Gandhi yang sudah menguasai India lebih dari dua dekade. Modi akhirnya mampu mengalahkan rivalnya yang memiliki finansial dan pengaruh politik yang begitu besar.

Apa yang dibuat oleh Modi bukan hal yang mudah, jika itu tidak didukung oleh personal Modi yang mempunyai gagasan dan visi yang kuat. Ide dan pikiran-pikiran kepemimpinan begitu dibutuhkan untuk kemajuan negara atau daerah. Dimana sejarah telah mencatat bahwa dinasti dan finansial bukan menjadi penentu untuk membangun negara (daerah). Modi mebuktikan itu melampaui sekat antara kaya dan miskin di India.

Yang dilakukan oleh Modi merupkan contoh dari sekian pemimpin dunia yang berhasil membangun negara (daerah) dengan modal ide dan pikiran-pikiran besar yang tertanam dalam benak seorang pemimpin. Bukan karena uang, apalagi soal dinasti dan ancam mengancam.

Di tahun 2020 adalah tahun politik bagi Indonesia, dimana gelombang ke 3 (tiga) pemilukada serentak yang akan berlangsung pada tanggal 9 Desember 2020 mendatang. Dinamika politik kian memanas ketika KPU sebagai wasit yang mengatur kompetisi dalam kontestasi politik telah memulai tahapan pendaftaran kandidat pada tanggal 4-6 September 2020 kemarin. Tentunya kita berharap bahwa gelombang ke 3 (tiga) pemilukada serentak bisa menghadirkan sebuah proses demokrasi yang berkualitas ditengah pandemi Covid-19.

Sebelum pandemi muncul, Edwar Aspinal telah menerbitkan buku terbarunya Democracy For Sale yang menjelaskan tumbuh suburnya politik transaksi dalam proses pemilu dan pemilukada. Jika kita membaca secara seksama sejumlah riset terkait dengan dinamika politik dalam pemilu maupun pemilukada yang berlangsung dewasa ini, kita seolah kehilangan harapan, bahwa ide dan gagasan-gagasan besar tidak bisa dikonversi secara kuantitas, alisan gagal dengan praktek politik transaksional. Realitas pun membuktikan bahwa kekuasaan yang diraih dengan mengabaikan ide dan gagasan-gagasan besar telah gagal menjalankan roda pemerintahannya.

Baca juga  Bola Maya

Narendra Modi hadir sebagai antitesa dan mampu meruntuhkan mitos tentang ketidakmungkinan seorang dari kasta terendah dapat meraih kekuasan mengalahkan Rahul Gandhi dari klan terbesar, dengan hanya bermodalkan gagasan dan pikiran-pikiran besar. maka dalam momentum pemilihan kepala daerah (pilkada) di tahun 2020, kita harus berani menonjolkan ide dan pikiran-pikiran orginalitas yang lahir dari calon pemimpin sebagaimana yang dilakukan oleh Modi di India, bukan dari hasil branding team.

Tidore Kepulauan sebagai salah satu daerah yang masuk dalam perhelatan pilkada langsung yang dilaksankan pada tanggal 9 Desember 2020 telah menampilkan 3 (tiga) pasangan calon (paslon) Wali Kota dan Wakil Wali Kota yang didukung oleh partai pengusungnya masing-masing. Satu diantara 3 (tiga) paslon itu adalah Basri Salama, S.Pd dan Dr. M Guntur Alting, M.Pd, M.Si (BAGUS) yang mengsung tag line TIDORE HEBAT 2030.

Basri dan Guntur adalah dua karakter pemimpin yang lahir dari kelas bawah masyarakat. Basri Salama adalah orang yang pernah merasakan kehidupan sebagai anak pasar Garo Malaha dan Guntur Alting sebagai orang yang pernah menjadi penjaga masjid itu memiliki ide, pikiran dan bercita-cita besar (seperti Modi di India) untuk membangun tanah kelahiranya, Tidore Kepulauan menjadi kota yang HEBAT 2030.

Untuk membangun Tidore Kepulauan, kesederhanaan saja tidak cukup. Meski kesederhanaan telah membentuk empati Basri dan Guntur. Harus membutuhkan ide dan pikiran orginalitas yang lahir dari pemipin. Basri dan Guntur adalah dua sosok calon pemimpin yang memiliki ide dan pikiran-pikiran orginalitas yang lahir dari proses panjang, dengan latar belakang pendidikan yang berbeda, namun keduanya diharapkan dapat berkolaborasi untuk membangun Tidore Kepulauan. Dan dengan kolaborasi tersebut nantinya akan melahirkan inovasi dan kreativitas sebagai modal untuk mewujudkan TIDORE HEBAT 2030.

Visi, Inovasi & Kreativitas

Pada era revolusi indstri 4.0 (yang sementara akan menuju 5.0) benar-benar membutuhkan kepala daerah yang tidak hanya mempunya visi tetapi juga perlu dikembangkan dengan pikiran inovasi dan kreativitas seperti pada DKI, Jawa Barat dan Sulawesi Selatan yang kepala daerahnya mengkombinasikan antara visi yang inovasi dan kreativitas dengan perkembangan zaman. Inovasi dan kreativitas harus menjadi modal yang dimiliki oleh kepala daerah.

Baca juga  Ulama; Guru Menulis Kita

Kita tahu, bahwa Tidore pernah berjaya pada zamannya, telah disegani dipanggung internasional pada puluhan abad silam, karena kecerdasan dan keuletan pemimpinnya, membuat Tidore berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa eropa pada saat itu. Kini Tidore hanya lah sebuah kota kecil, yang mungkin tidak lagi menjadi perbincangan seperti masa silam, apalagi disegani. Maka sudah saatnya tangung jawab sejarah ini harus diambil oleh generasi yang memiliki ide dan gagasan besar untuk dapat megembalikan kejayaan Kota Tidore Kepulauan.

Tidore Kepulaun harus berdiri sejajar dengan kota-kota maju lain, Agar Tidore Kepulauan berdiri sejajar dengan kota-kota lain maka membtuhkan pemimpin yang berkualitas yang mempunyai ide dan pikiran-pikiran yang maju.

Basri Salama dan Guntur Alting adalah dua putra terbaik yang dimiliki oleh Kota Tidore Kepuluan, dari latar belakang yang berbeda basri sebagai politisi muda, dan Guntur Alting sebagai akademisi muda, telah membuat kombinasi pasangan calon ini sangat sempurna, keduanya mempunyai sprit yang kuat dan kapasitaas yang mumpuni untuk kita meletakan harapan masa depan Kota Tidore Kepulauan yang lebih baik.

Dengan tanpa tendensius dan berupaya objektif, saya dan mungkin kita semua harus jujur mengatakan bahwa Basri Salama dan Guntur Alting layak dan pantas untuk memimpin Tidore Kepulauan agar bisa melakukan reinstalisasi kebekuan model dan gaya kepemimpinan Ali Ibrahim dan Muhammad Sinen yang mengalami ketertinggalan dalam tata kelola pemerintahan dan kebijakan yang tidak membawa dampak untuk kemajuan Tidore Kepulauan. Sebab, jika Tidore Kepulauan yang dipimpin oleh Ali Ibrahin dan M. Sinen diukur dengan konsep pengembangan kota berbasis Smart City yang hari ini banyak diadopsi oleh kota-kota maju di dunia, maka terlihat jelas Kota Tidore Kepulauan sangat tertinggal.

Sudah waktunya Tidore Kepulauan harus dipimpin oleh figur baru, muda dan energik seperti Basri Salama dan Guntur Alting untuk dapat menggerakan Tidore jauh dari jurang ketertinggalan. Pemerintahan harus ditata kembali dengan pola zaman yang terus berkembang. Sebagai upaya untuk mewujudkan Tidore Hebat 2030 mendatang. Tidore Hebat memiliki akronim dari Humanis, Ekologis, Berbudaya, Agamais, dan Terintegrasi. Konsep “terintegrasi” inilah yang nantinya akan dikembang oleh BAGUS dengan bersandar pada Smart City.

Share :

Baca Juga

https://rumahfilsafat.com

Opini

Batu yang Dilempar Pasti Kembali ke Tanah
Yanuardi Syukur (Istimewa)

Opini

Kebudayaan, Makna Batiniah, dan Tulisan

Opini

Milad GMNI Ke-67, Rekonsiliasi Adalah Solusi Terbaik
Reza A.A Wattimena

Opini

Kekuasaan dan Hakekat Manusia
Hasin Abdullah

Opini

Ulama; Guru Menulis Kita
https://id.pinterest.com/pin/514184482451790959/?hcb=1

Opini

Ketidaktahuan yang Agung
masterfile.com

Opini

Spiritualitas Uang

Opini

Normal-Normal Saja