Home / Kabar

Rabu, 21 Oktober 2020 - 22:23 WIB

Dilema Santri Intelektual

Sumber : https://wartaku.id

Sumber : https://wartaku.id

Oleh: Yanuardi Syukur*

Santri intelektual adalah individu muslim yang memiliki relasi saling pengaruh secara berkesinambungan dengan kiai yang kemudian mengkhususkan diri pada eksplorasi pikiran untuk merespon perkembangan dunia sekitarnya.

Corak santri intelektual adalah: memiliki relasi saling pengaruh dengan kiai secara terus-menerus, memanfaatkan sumberdaya untuk eksplorasi pemikiran, dan responsif terhadap perubahan yang terjadi di lingkungannya.

Saling pengaruh dengan kiai dapat berbentuk pengabdian sebagai guru di pesantren atau alumni yang beraktivitas di luar pesantren tapi memiliki interaksi yang berkesinambungan dengan kiai. Interaksi itu bisa bersifat rutin atau tidak rutin dengan tingkat intensitas yang beragam. Prinsipnya, interaksi itu tidak lepas dari pengabdian sebagai bentuk rasa terima kasih atas perjuangan kiai bagi perkembangan santri.

Dalam upaya eksplorasi pemikiran sebagai respons terhadap perubahan dunia, santri menghadapi dilema sebagai berikut. Pertama, berdiri di pundak ‘raksasa’ atau berpijak pada pengalaman dan pengetahuan personal. Pundak raksasa adalah paradigma besar yang disepakati para pemikir masa lalu.

Baca juga  Budi Nurgianto : Berkolaborasi Kunci Menangani Pandemi COVID-19

Nyaris tidak ada intelektual yang bisa mengklaim ia berdiri di atas kakinya sendiri dalam arti mendapatkan pengetahuan dari usaha subjektif. Semua intelektual memulai pijakannya dari raksasa terdahulu untuk kemudian mencari celah kosong yang akan ia isi sebagai pakar di bidang spesifik tertentu.

Tapi, tetaplah ia ‘keturunan’ dari akal-akal besar sebelumnya. Cukup jarang ada intelektual yang berdiri sendiri, kecuali setelah mendapatkan pencerahan tertentu yang membuatnya melakukan falsifikasi atas apa yang ada dan merumuskan ‘tata dunia baru’ dalam subjek tertentu.

Selanjutnya, santri intelektual juga berhadapan dengan masih kuatnya jurang perbedaan antara keyakinan dan pengetahuan. Jurang ini secara singkat merupakan dampak dari ‘perang klaim’ antara agamawan versus intelektual yang melahirkan pemisahan ragam ilmu: agama vs non-agama.

Santri intelektual umumnya punya intensi tidak hanya membaca realitas tapi juga melakukan integrasi atau sinergi antara dua ranah yang masih berseteru itu: keyakinan dan pengetahuan. Upaya mereka untuk memikirkan, menulis, campaign, hingga pembentukan komunitas intelektual tidak lepas dari intensi untuk sinergi dua hal itu.

Baca juga  Bismillah, LWP NU Tangsel Luncurkan Program Unggulan

Di tengah dunia yang masih cenderung senang pada pemisahan dua ranah tersebut, pekerjaan santri intelektual tidak banyak dapat apresiasi tapi lambat laun usaha mereka melahirkan penerimaan publik secara bertahap. Di sini terlihat bahwa perubahan pemikiran memang tidak mudah, butuh waktu, dan juga butuh penyadaran yang berkesinambungan.

Santri intelektual sesungguhnya adalah agensi yang memiliki keragaman intensi, kekuasaan atas sumber daya dan terkoneksi dengan kultur yang ‘menjerat’ mereka dalam satu kesatuan tertentu. Mereka terus eksplorasi pemikiran dan gerakan namun di saat yang sama juga melakukan adaptasi dan invensi strategi agar tujuan sinergi keyakinan dan pengetahuan dapat diterima oleh publik lebih luas.

-KRL Depok-Manggarai, 21 Oktober 2020-

*Penulis adalah Presiden Rumah Produktif Indonesia

Share :

Baca Juga

Wakil Walikota Tidore, Muhammad Sinen Saat Mengambil Sumpah Kepala Desa Antar Waktu

Kabar

Wakil Walikota Tidore Lantik 6 Kades Sisa Masa Bhakti 2015-2020

Kabar

Jalan-jalan Virtual ke Amerika ala Rumah Produktif Indonesia

Akademika

Staf Khusus Presiden: Pendidikan di Indonesia Timur Ada di Tangan Pemuda
Walikota H. Ali Ibrahim memberikan santunan kepada Anak yatim Piatu

Kabar

Walikota Ali Ibrahim Berikan Santunan Pada 180 Anak Yatim Piatu di Tidore
Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi dalam Rangka HUT Ke 74 Kemerdekaan RI Tahun 2018 di halaman Kantor Walikota Kota Tidore Kepulauan.

Kabar

Mulai 1 Agustus, Seluruh Masyarakat Tidore Diminta Kibarkan Bendera Merah Putih 
Kaban BKPSDM Kota Tidore Kepulauan, Sura Husain

Kabar

Terkait Seleksi TKB CPNS, Tidore Belum Mendapatkan Jadwal Resmi
Terlihat tumpukan sampah hingga ke bahu jalan di samping kantor Lurah Soa-sio, Ternate (Olis)

Kabar

Pemuda Pancasila Ternate Desak Pemkot Ternate Seriusi Tumpukan Sampah di Bahu Jalan

Kabar

Hampir 500 KK di Mafututu Bakal Terima Bantuan Sembako dari Pemerintah