Home / Opini

Minggu, 4 Oktober 2020 - 17:10 WIB

Wabah Kesempitan Berpikir

https://id.lovepik.com/image-401428302/brain.html

https://id.lovepik.com/image-401428302/brain.html

Oleh: Reza A.A Wattimena

Masalah terbesar di dunia kita sekarang ini bukanlah pandemik. Juga bukan korupsi, atau kesenjangan sosial global, ataupun kerusakan lingkungan. Yang menjadi akar dari semua masalah tersebut adalah kesempitan berpikir. Semua masalah lainnya berakar ke satu masalah tersebut.

Pandemik tercipta dan menyebar, karena kesempitan berpikir sekelompok orang di Cina. Korupsi dan kesenjangan sosial global terjadi, karena kesempitan berpikir sekelompok orang yang rakus dan tak beradab. Diskriminasi, radikalisme dan terorisme terjadi, juga karena kesempitan berpikir. Hal yang sama terjadi dalam soal kerusakan lingkungan.

Kesempitan Berpikir

Apa itu kesempitan berpikir? Ia adalah kecenderungan orang untuk memutlakan pandangan sendiri, dan menolak untuk melihat dari sudut pandang orang lain. Kesempitan berpikir juga ditandai dengan kurangnya empati, yakni kemampuan untuk merasakan apa yang mungkin dirasakan orang lain. Akibatnya, orang tersebut tidak mampu mempertimbangkan pandangan orang lain. Ia selalu merasa benar, walaupun tak sungguh berpijak pada akal sehat, ataupun kenyataan yang ada.

Orang yang sempit berpikir tidak terbuka pada perubahan. Ia tidak terbuka pada kemungkinan-kemungkinan baru yang muncul. Ia penuh dengan prasangka terhadap perbedaan cara hidup, ataupun perbedaan pandangan. Yang menjadi masalah besar adalah, ketika orang-orang yang sempit berpikir memegang posisi kekuasaan.

Kebijakannya akan menghancurkan kebaikan bersama. Perbedaan cara hidup dan cara pandang akan terancam. Masyarakat luas berpeluang mengalami kekacauan politik, dan menjadi masyarakat yang hidup dalam rasa takut terhadap pemerintahan otoriter yang bersikap semaunya. Kesempitan berpikir lalu menjadi gaya hidup baru yang dianggap layak untuk diikuti.

Masyarakat juga terancam hancur, jika orang-orang yang sempit berpikir menjadi mayoritas. Hukum dan keadilan menjadi tak berdaya. Diskriminasi terhadap orang-orang yang berbeda cara hidup dan cara pandang akan menjadi biasa. Kekerasan dan kebodohan akan menjadi bagian hidup sehari-hari.

Baca juga  Labilitas Kebijakan di Tengah Pandemi Covid-19

Kesempitan berpikir pun lalu menjadi wabah. Banyak orang yang terjangkit wabah tersebut. Tingkat pendidikan dan status ekonomi tinggi bukan jaminan, bahwa orang terhindar dari penyakit ini. Banyak juga orang sederhana, dengan tingkat pendidikan biasa-biasa saja, justru bisa terhindar dari kesempitan berpikir.

Akar Kesempitan Berpikir

Mengapa orang sempit di dalam berpikir? Ada tiga akar yang bisa dibedah, yakni akar sosiologis, akar epistemologis dan akar antropologis. Akar sosiologis mengacu pada lingkungan sosial seseorang. Ini mengacu juga pada pola didik, keteladanan keluarga dan keadaan masyarakat sekitar.

Keluarga yang berpikir sempit akan mengajarkan pola pikir tertutup kepada anak-anaknya. Biasanya, budaya dan agama menjadi patokan mutlak yang tak boleh dipertanyakan. Pemutlakkan pandangan kuno inilah yang menjadi inti dari kesempitan berpikir. Di dalam masyarakat yang terbelakang, dengan pola pikir yang irasional dan minim akal sehat, kesempitan berpikir menjadi satu-satunya hal yang diterima.

Akar epistemologis mengacu pada cara berpikir seseorang. Kesempitan berpikir lahir, ketika orang tidak memiliki ilmu dan informasi yang memadai. Ia tidak membaca. Ia menolak untuk melihat kebudayaan lain yang lebih maju.

Namun, ada paradoks disini. Di satu sisi, kita hidup di jaman informasi. Beragam informasi begitu mudah dan murah untuk didapat. Namun, di sisi lain, kita kerap terjebak pada informasi palsu, dan akhirnya mengalami kesalahpahaman.

Banjir informasi juga memuat kita kekurangan waktu maupun tenaga untuk melakukan refleksi. Informasi hanya menjadi sekumpulan fakta tanpa arti. Pengetahuan berlimpah. Namun, kebijaksanaan justru hampir punah.

Akar antropologis mengacu pada sisi manusia yang sempit dalam berpikir. Nietzsche, pemikir Jerman, sudah lama mengingatkan, bahwa manusia butuh untuk mempercayai sesuatu dalam hidupnya. Di tengah ketidakpastian hidup, ajaran moral di dalam budaya dan agama lalu menjadi pegangan yang seolah pasti. Ketakutan akan ketidakpastian, dan kerinduan untuk percaya, mendorong manusia menjadi sempit dalam berpikir.

Baca juga  Memaknai Hari Pancasila Sebagai Asas Kemerdekaan Berdemokrasi

Pendidikan boleh tinggi. Ekonomi boleh mapan. Namun, jika orang hidup di dalam ketakutan yang tak masuk akal, maka ia akan menjadi keras. Pikirannya menjadi sempit.

Melatih Keterbukaan

Tiga akar di atas bisa menjadi peta untuk melakukan perubahan. Pola didik haruslah terbuka pada perbedaan pendapat. Pertanyaan kritis harus didorong, dan tak boleh dijajah. Ini berlaku mulai dari pola asuh di dalam keluarga, sampai dengan tata kelola politik sehari-hari.

Informasi yang beredar di masyarakat juga harus dikelola dengan tepat. Berita palsu dan penyebar kebencian haruslah dibasmi. Masyarakat juga diajak untuk menekuni informasi secara mendalam. Hanya dengan begitu, informasi bisa menjadi ilmu, dan membentuk kebijaksanaan hidup.

Musuh dari kesempitan berpikir adalah sikap terbuka. Keterbukaan hanya mungkin tercipta, jika orang belajar untuk memeluk ketidakpastian di dalam hidup. Ketidakpastian tidak dihancurkan oleh kepastian yang semu, melainkan dilihat sebagai kemungkinan-kemungkinan yang kreatif. Perbedaan cara pandang dan cara hidup pun dirayakan sebagai warna warni kehidupan itu sendiri.

Masa depan manusia ditentukan oleh keterbukaan berpikir manusia itu sendiri. Apakah ia akan tetap sempit dalam berpikir, dan mengundang konflik maupun kekacauan di dalam hidup bersama? Apakah ia akan tetap sempit dalam berpikir, dan membiarkan kerusakan lingkungan terus bertambah besar? Ini yang mesti sungguh kita renungkan.

*Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman.

Share :

Baca Juga

Opini

Pemuda Indonesia Pasca Covid-19
A. Boko

Opini

Quo Vadis Pendidikan dalam Pandemik Covid-19
Prof.Dr.HM.Rasyidi

Opini

Pahlawan Nasional untuk Profesor Rasyidi

Opini

Covid-19, Momentum Titik Balik Hidup Kita

Opini

Tentang ini, Saya Sangat Egois

Opini

Masyarakat Melambat
Galim Umabaihi Opini Media Sosial

Opini

Kuasa Media Sosial
Sumber : https://wartapilihan.com/berjudi-dengan-pendidikan-masa-depan

Opini

Harry Santosa, Mengangkat Batu-batu Kecil