Home / Jelajah / Kabar

Kamis, 19 November 2020 - 12:51 WIB

FGD bersama DPD RI, Husain Alting Syah: Tidore dan Papua Bersaudara, Tidak ada Agresi Militer Tidore terhadap Papua

Wakil Ketua DPD RI, Letjen TNI Marinir (Purn) Dr. Nono Sampono memberikan Plakat kepada Sultan Tidore, Husain Alting Syah

Wakil Ketua DPD RI, Letjen TNI Marinir (Purn) Dr. Nono Sampono memberikan Plakat kepada Sultan Tidore, Husain Alting Syah

Marijang.id, Tidore — Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPD-RI) bekerjasama dengan Kesultanan Tidore dan Universitas Khairun Ternate menggelar Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema Rekonstruksi Hubungan Sejarah dan Budaya Tidore-Papua untuk Memperkuat Ketahanan Nasional Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia, di Kadaton Kesultanan Tidore, Rabu (18/11).

Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Letjen TNI Marinir (Purn) Dr. Nono Sampono menghadiri dan menjadi pembicara pada Focus Group Discussion (FGD) tersebut. Selain digelar dengan tatap muka dan penerapan protokol kesehatan, FGD ini juga digelar secara virtual melalui Aplikasi Zoom Meeting.

sesi pembukaan Focus Grup Discussion (FGD) dengan tema Rekonstruksi Hubungan Sejarah dan Budaya Tidore-Papua untuk Memperkuat Ketahanan Nasional Dalam Bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia

Dalam sambutannya, Sultan Tidore Husain Alting Syah mengucapkan selamat datang kepada Wakil Ketua DPD RI, dan anggota DPD lainnya di Kota Kecil yang telah mengukir sejarah yang besar. Negeri (Tidore) ini ikut andil menyatukan sepertiga wilayah ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia melalui perjalanan panjang dan perjuangan para Sultan Tidore.

“Papua pada saat itu bersatu dengan Tidore bahu membahu dalam hubungan persaudaraan. Tidore tidak pernah melakukan agresi militer terhadap papua. Atas nama kemanusiaan, Papua dengan Tidore membangun peradaban bersama sehingga Papua menyerahkan itu semua di bawah daulat Kesultanan Tidore. Dimulai dari Sultan Al Mansur hingga Sultan Zainal Abidin Syah melalui perjanjian di Malino hingga ke Bali diberi tiga opsi yang difasilitasi oleh PBB, namun Sultan Zainal Abidin Syah menyatakan bahwa Tidore bersama Papua masuk didalam Negara Kesatuan Republik Indonesia,” jelas Sultan Tidore Husain Alting Syah.

Husain juga mengatakan bahwa Sultan Zainal Abidin Syah merupakan Gubernur Pertama Irian Barat (sekarang Papua) dan Soasio merupakan ibu kota pada saat itu. Banyak fakta sejarah yang membuktikan bahwa Papua merupakan bagian dari Tidore.

“Tak hanya itu, Tidore juga memiliki tokoh yang berperan penting dalam integrasi NKRI, seperti Pangeran Nuku dan Tuan Guru Imam Abdullah Qadhi Abdussalam yang merupakan seorang tokoh di Cape Town yang terkenal, sangat dihargai dan juga diakui oleh Nelson Mandela sebagai gurunya,” jelas Husain Alting Syah.

Baca juga  Bawaslu Tidore Lakukan Rapid Test Pada Jajaran Panwascam, Begini Hasilnya

Menurut Husain, membangun hubungan dengan Papua tidak hanya dengan pendekatan militer dan ekonomi. Ada pendekatan yang dipakai oleh para sultan pada masa lalu merawat kesultanannya.

“Dari sisi bahasa, ada pendekatan Cing se Cingari (Saling menjaga dan menghargai), Rasa se Rasai (Berangkat dari hati dan kasih sayang) Mae se Kolfino (Rasa takut dan malu) relasi dari aspek kebahasaan ini yang sejak dahulu hingga saat ini secara terus menerus dipakai dan dirawat,” tegas Sultan Husain Alting.

Kepada Nono Sampono, Sultan berujar, bahwa di Tidore, ada peraturan Kie se Kolano. Hukum diberlakukan pertama bagi Sultan, tidak pada rakyat. Jadi, Sultan yang pertama kali menjalankan seluruh kewajiban sebelum rakyat menjalankan kewajibannya. Sultan juga harus memberikan seluruh hak-hak sebelum rakyat menjalankan kewajibannya. Kita harus bolak balik cara berfikir dan bertindak, bahwa ada dimensi sosial yang secara luas bisa dipakai dan diwariskan untuk membangun hubungan Tidore-Papua.

Sejalan dengan Sultan Husain Alting Syah, Letjen TNI Marinir (Purn) Dr. Nono Sampono menyampaikan, selama ini kita melihat ada pihak yang menganggap penyelesaian dengan cara senjata, aspek hukum dan Pemberian Otonomi Khusus akan menyelesaikan msalah di Papua. Padahal tidak, sebab masalah Papua sangat kompleks sehingga butuh pendekatan yang komprehensif.

“Ada pengabaian dari proses penyelesaian masalah di Papua, yakni pendekatan sosial dan budaya. Ini penting, sebab masyarakat Papua itu masyarakat Adat. Pendekatan secara kultural jauh lebih penting dan mengiringi itu bisa dilakukan melalui pendekatan Agama, Keadilan dan Kesejahteraan,” ungkap Nono Sampono.

Dia melanjutkan, DPD mencoba untuk melihat masalah Papua dari aspek Kultural sehingga hari ini kita ke Tidore (Kadaton) untuk mencoba membuka dialog dari sini dan pada saatnya kita akan kesana (Papua). Dialog hari ini merupakan kehendak yang besar dan mudah-mudahan bisa ditanggapi dengan positif oleh Basudara yang ada di Papua untuk bersama melihat persoalan ini.

Baca juga  Genangan Air Kepung MAN 1 Halteng, Butuh Perhatian Serius Pemerintah 

Wakil Ketua DPD dapil Maluku ini juga mengungkapkan bahwa masalah Papua sangat terkait dengan Maluku dan Maluku Utara. Secara ekonomi, kita di Timur Indonesia masih jomplang. Kemiskinan dan keterbelakangan ada di sini. Itu sebabnya, DPD RI ingin menyelesaikan semua ini menjadi satu paket, mencoba memulai dari aspek kebudayaan dan selanjutnya kita akan bicara pada aspek kesejahteraan.

“Kita perlu membangun simpul ekonomi sehingga ada keseimbangan dari semua sisi. Apalagi sumber daya alam yang dimiliki Papua, Maluku dan Maluku Utara sebenarnya cukup menjanjikan untuk membuat rakyat sejahtera jika dikelola dengan baik dan benar. Itu sebabnya, pengelolaan birokrasi kita di Pemerintahan perlu diperbaiki dan disesuaikan,” jelas Nono Sampono.

Sementara, dorongan Otonomi Khusus yang disampaikan Sultan Tidore, Husain Alting Syah yang juga Senator Maluku Utara menurut Nono merupakan aspirasi baik yang harus dikelola. Dalam kepentingan lokal, hal-hal yang diusulkan akan menjadi catatan, sebab setiap anggota DPD selalu memperjuangkan aspirasi daerah.

“Pintu lahirnya Undang-Undang kita ada di DPR RI. Final di DPD RI belum tentu final di DPR RI. Itu sebabnya, semua harus bergerak, baik kalangan Masyarakat, Mahasiswa, Akademisi. Terutama kampus, untuk memberikan dukungan,” tutup Nono Sampono.

Sementara Anggota DPD RI Dapil Papua Barat, Filep Wamafma mengatakan, Papua itu masalah Negara, sehingga Negara harus menyelesaikan masalah tersebut, melalui pendekatan sosial-keagamaan, sosial-kultural sehingga masalah yang ada di Papua tidak berlarut larut dan segera cepat terselesaikan.

Turut menjadi pembicaraan dalam FGD diantaranya, Rektor Universitas Khairun, Prof. Dr. Husen Alting, Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Dr. Herman Oesman dan Dr. Abdul Haris, Sejarawan dan Korpus Sosial, Humaniora dan Ekonomi LPPM Universitas Negeri Jakarta.

Hadir bersama Wakil Ketua DPD RI, Matheus Stefi Pasimanyeku, Namto Roba, Ahmad Nawardi, Habib Alwi Awi, Memberob Y Rumakiek, Sfefanus B.A.N Liow, Arniza Nilawati, dan Hilda Manafe.

Sultan Husain Alting Syah memberikan kenang-kenangan berupa kain tenun Puta Dino Kayangan kepada Wakil Ketua DPD RI  Letjen TNI Marinir (Purn) Dr. Nono Sampono dan perwakilan DPD RI lainnya

Diakhir FGD, Sultan Tidore memberikan kenang-kenangan kepada perwakilan DPD RI, berupa Kain Puta Dino Kayangan, yang merupakan Tenun Asli Tidore. Ditenun oleh kelompok anak-anak muda Tidore dibawah binaan Ibu Anita Gathmir. (Red) 

Share :

Baca Juga

Sumber : https://wartaku.id

Kabar

Dilema Santri Intelektual
Ketua DPD KNPI Terpilih, Charles Richard saat memberikan sambutan

Kabar

Harapan KNPD untuk Charles Richard yang Terpilih Sebagai Ketua KNPI Halbar
Suasana rapat dalam rangka membicarakan pengecoran jalan di gunung mamae di Desa Sumber Makmur, Kecamatan Gane Timur

Kabar

Kurangnya Perhatian Pemerintah, FP2G Dorong Perbaikan Ruas Jalan
Foto Bersama Usai Rapat

Kabar

MPC PP Kota Ternate Gelar Rapat Pemilihan PAC se-Kota Ternate

Kabar

KAPITA Malut, Garda Nuku, TJC dan Hay Ternate Lakukan Aksi Sosial
Idris Sudin,S.P.,M.Si, Rektor Universitas Nuku bersama Kepala LLDIKTI Wilayah XII Maluku-Maluku Utara, DR. Muhammad Bugis, M.Si dan Para Senat UNNU

Kabar

UNNU Gelar Wisuda dan Dies Natalis ke 19, Idris Sudin: Pemeringkatan Universitas Kita Cukup Membanggakan
Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Penghitungan Suara dan Penetapan Hasil Pemilihan Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tidore Kepulauan tahun 2020

Kabar

Pleno KPU Tikep, Pasangan AMAN Ungguli SALAMAT dan BAGUS

Kabar

Warganet di Malut Berikan Semangat dan Doa Untuk Kesembuhan Wali Kota Tidore