Home / Akademika / Kabar

Senin, 2 November 2020 - 20:52 WIB

Mutiara Pandemik: Mengikat Makna PJJ di Australia dan Indonesia

Remote Learning - Pembelajaran Jarak Jauh oleh AIMEP

Remote Learning - Pembelajaran Jarak Jauh oleh AIMEP

Marijang.id, Nasional — Pengalaman adalah guru terbaik. Ungkapan tersebut sangat cocok untuk menyimpulkan paparan Anam Javed, guru sekolah menengah di Melbourne, Victoria tentang penyelenggaraan pembelajaran jarak jauh (PJJ) di Australia. Seluruh sekolah di Victoria telah mengalami dua kali pemberlakuan PJJ karena pandemi covid-19 sepanjang tahun 2020 ini.

Pertama, pada term ke-2 (April-Juni), pengumuman kebijakan penutupan sekolah diumumkan secara resmi melalui laman Facebook Pemerintah secara mendadak. Dalam waktu seminggu, guru diminta membuat persiapan transisi pembelajaran dari tatap muka menuju pembelajaran daring di sekolah baik secara konten maupun teknis. Kendati bahan-bahan sumber daya sudah tersedia sejak sebelumnya, penyiapan PJJ pertama tetap saja merupakan masa logistic nightmare (mimpi buruk logistik) karena semua dilakukan secara tiba-tiba dalam waktu yang sangat singkat. Selain menyelenggarakan kegiatan PJJ model daring, guru pun masih berangkat ke sekolah untuk memfasilitasi pembelajaran siswa-siswa berkebutuhan khusus sampai kegiatan tatap muka penuh kembali dapat dilakukan.

Kedua, ketika kasus positif COVID-19 di Victoria kembali menyeruak, kebijakan penutupan sekolah kembali diberlakukan pada term ke-3. Ketika itu, baik guru, peserta didik maupun orangtua sudah lebih terlatih melakukan peralihan dari pembelajaran tatap muka kepada PJJ. Demikian pula sebaliknya saat transisi di term ke-4 dari PJJ kepada pembelajaran tatap muka penuh seperti sekarang ini.

Lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Adapun pengalaman berbeda pada penyelenggaraan PJJ di sekolah Indonesia selama masa pandemi setidaknya dapat dibedakan ke dalam tiga trend, seperti dipaparkan Nurjanni Astiyanti, guru sekolah menengah kejuruan (SMK) di lingkungan Dinas Pendidikan Jawa Barat.

Pertama, sejak Maret sampai dengan Juni 2020, kebanyakan guru memigrasikan bahan pembelajaran tatap muka ke dalam pembelajaran jarak jauh sesuai dengan pemahaman masing-masing yang cenderung coba-coba. Selain tidak ada persiapan dan pelatihan yang diperoleh guru selama masa awal pemberlakuan PJJ tersebut, beberapa perubahan kebijakan pun mengemuka. Perubahan tersebut diantaranya: Ujian Nasional (UN) dihapuskan lebih awal dari rencana sebelumnya di tahun 2021, praktek kerja industri (Prakerin) siswa SMK dihentikan, Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) dilangsungkan secara daring penuh sampai dengan pelonggaran kriteria kenaikan kelas dan kelulusan peserta didik.

Kedua, sejak awal tahu ajaran baru 2020/2021 sampai dengan awal Oktober 2020, sekolah sudah lebih dapat ajeg menentukan model PJJ yang akan diimplementasikan. Pemerintah menawarkan tiga alternative model PJJ bagi sekolah, antara luring penuh dengan pemberlakuan protokol kesehatan ketat, daring penuh dengan dukungan ICT yang memadai, ataupun secara terpadu (blended learning) mengkombinasikan daring dan luring. Tentu saja, sekolah memilih salah satu diantara ketiganya sesuai dengan kebutuhan peserta didik dan sumber daya pembelajaran yang tersedia. Selain ketersediaan kebijakan yang berpihak pada anak, pada masa kedua PJJ inipun Pemerintah sudah lebih antisipatif menyediakan sumber belajar luring maupun daring yang dapat dimanfaatkan guru baik untuk pembelajaran maupun pengembangan diri. Selain itu, dukungan dari korporasi ICT dalam menyediakan sumber belajar juga pengadaan kuota data bagi siswa, guru, mahasiswa dan dosen pun merupakan solusi yang sangat mendukung pelaksanaan PJJ di sekolah Indonesia.

Baca juga  Ini yang disampaikan Walikota Tikep pada Perayaan HUT Bhayangkara ke-74 Tahun

Situasi inilah yang dipandang Nurjanni cukup mendukung perkembangan sekarang di fase ketiga PJJ saat seluruh pihak pendidik di sekolah dan rumah maupun anak sudah lebih menerima situasi belajar dari rumah sebagai pilihan yang paling aman untuk memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan psikologis warga sekolah.

Adapun sebagai orangtua anak berkebutuhan khusus, Lanny Octaviany menuturkan betapa berharganya pengalaman PJJ yang dijalaninya. Dibutuhkan waktu sekira 2 minggu hingga sebulan bagi pihak sekolah menyiapkan program dan muatan PJJ yang dapat diterapkan oleh para orangtua pada anaknya masing-masing. Untuk pertama kalinya, Lanny menyampaikan bahwa guru menuntunnya secara telaten untuk dapat melakukan peran pendampingan pembelajaran baik secara akademik maupun non-kognitif bagi anaknya yang terdiagnosa mengalami Autism Spectrum Disorder (ASD). Bagi Lanny, pengalaman berharga ini bisa jadi merupakan salah satu privilege yang diperolehnya secara mudah tanpa kendala berarti karena lokasi tempat tinggal di Ibu kota dengan manajemen sekolah anak yang sangat handal. Secara Empatik, Lanny meresahkan perihal kesenjangan pendidikan selama penyelenggaraan PJJ sebagaimana terungkap dari hasil penelitian yang disampaikannya di belahan lain Nusantara, terutama bagi anak-anak berkebutuhan khusus.

Petikan-petikan ketiga narasumber Alumni Conversation tersebut terbetik pada diskusi virtual yang dipandu oleh Brynna Rafferty-Brown dalam kapasitasnya sebagai Program Manager Australia-Indonesia Muslim Exchange Program (AIMEP), pada Sabtu, 31 Oktober 2020 kemarin. Diskusi alumni program pertukaran tokoh muda Muslim Australia-Indonesia tersebut digagas oleh AIMEP Education Cluster yang baru terbentuk sejak bulan Agustus 2020. AIMEP adalah program pertukaran person-to-person yang dinaungi oleh Pemerintah Australia dengan melibatkan tokoh muda komunitas muslim kedua negara terseleksi sejak tahun 2002.

Untuk alumni AIMEP basis Indonesia, telah terbentuk Forum Alumni AIMEP sejak tahun 2017 dengan ditandai penerbitan karya buku bersama berjudul Hidup Damai di Negeri Multikultural oleh Penerbit Gramedia. Sebagai ketua Forum Alumni AIMEP, Yanuardi Syukur pun menyampaikan opening speech pada Alumni Conversation pertama tersebut. Selain menyambut baik dan mengapresiasi inisiatif penyelenggaran forum diskusi virtual, Yanuardi juga menyoroti kecenderungan adiksi anak terhadap gawai dan internet selama masa pandemi covid-19 yang perlu dibahas dengan lebih saksama sebagai salah satu isyu yang mengemuka dalam penyelenggaraan PJJ.

Sementara itu, ketiga narasumber juga berbagi tips dan trik yang dapat diterapkan oleh guru maupun orangtua berkaca dari pengalaman mendampingi anak maupun peserta didik selama penyelenggaraan PJJ. Dalam hal ini, Lanny berbagi tips tentang penguatan peran kontributif setiap anggota keluarga secara setara dalam mendukung bukan hanya penyelenggaraan PJJ anak tapi juga keutuhan keluarga selama masa pandemi. Tidak dapat dipungkiri, baik secara perorangan maupun terungkap dari hasil penelitian, pada kebanyakan masyarakat di Indonesia, beban pendampingan anak selama PJJ masih banyak ditujukan kepada perempuan (ibu) di luar peran-peran lainnya selama masa bekerja dari rumah diberlakukan.

Baca juga  Anggota Komite I DPD RI Kunjungan Kerja ke Desa Maregam

Anam juga berbagi tentang pentingnya dialog anak-orangtua selama masa belajar dari rumah untuk menguatkan kebersamaan keluarga menjalani masa-masa PJJ selama pandemik. Dalam kapasitasnya sebagai guru, Anam juga berbagi tips mengenai pentingnya penyelenggaraan asesmen secara berkala dengan menerapkan asesmen formatif secara lebih ringan dan tidak kaku agar guru dapat selalu meng-update kondisi anak baik secara akademik maupun non-kognitif. Selain itu, perlu juga anak dan orangtua mengagendakan perayaan-perayaan kecil untuk menghidupkan semangat anak terlibat dalam PJJ lebih baik melalui kegiatan sederhana namun berarti.

Adapun Nurjanni mengangkat soal keluhan orangtua maupun guru terkait dengan self-regulation (pengaturan-diri) anak selama menjalani PJJ. Secara teoretik, Nurjanni menguatkan bahwa kemampuan penguatan-diri anak bukanlah sesuatu hal natural yang dapat begitu saja diperoleh anak tanpa fasilitasi pembelajaran orang dewasa. Guru dan orangtua sebagai orang dewasa terdekat dengan anak dapat melakukan ko-regulasi pada tahap awal dengan menyediakan kesempatan anak berpartisipasi dan berkontribusi misalnya dalam pembuatan aturan.

Anak bersama orang dewasa menyusun jadwal belajar synchronous dan asynchronous, kegiatan waktu luang hingga durasi screen time yang disepakati adalah beberapa contoh ko-regulasi yang dapat dilakukan. Ketika anak sudah dapat menunjukkan tanggung jawab memelihara keberjalanan aturan bersama tersebut, orang dewasa dapat membantunya memasuki tahapan social-shared regulation pada lingkungan sebayanya. Dalam konteks PJJ, guru dapat menerapkan pendekatan cooperative learning baik secara daring melalui penggunaan breakout room pada platform zoom dan google meeting, misalnya, maupun luring dengan mengelompokkan anak yang tinggal berdekatan untuk mengerjakan suatu tugas belajar tertentu. Pada situasi yang sudah lebih memungkinkan, peran ekstrakurikuler dan klub sesuai minat merupakan media yang tepat untuk diakses anak.

Dengan pengalaman ko-regulasi dan social-shared regulation tersebut, diharapkan anak dapat mencapai kemampuan pengaturan-diri yang tercermin dari kemampuan manajemen waktu, pemeliharaan motivasi belajar dan komitmen menjalani pembelajaran untuk pemenuhan kebutuhan pengembangan dirinya.

Secara serentak, ketiga narasumber sepakat bahwa hingga bulan ke-8 pandemik global COVID-19 yang banyak mengevolusi pembelajaran anak di sekolah, terdapat lebih banyak nilai-nilai positif yang justru tidak pernah diperoleh sebelumnya dan dapat dijadikan sebagai amunisi menjalani masa-masa pandemik selanjutnya. Dalam kapasitas sebagai ibu dan istri, masing-masing narasumber mengungkapkan betapa berharganya kesempatan mengenal dan memahami pasangan serta anak yang lebih baik selama masa belajar dari rumah diberlakukan.

Sementara itu, sebagai pendidik di sekolah maupun dalam komunitas orangtua, narasumber memaknai tantangan menyediakan pembelajaran yang kreatif dan atraktif menggunakan beragam media mungkin tidak akan diperoleh jika tidak ada pandemik COVID-19 yang “memaksa” penyelenggaraan PJJ secara massif. Sadar bahwa PJJ di masa pandemi ini merupakan bagian dari sejarah kemanusiaan yang tidak dapat dielakkan, seluruh pengisi acara Alumni Conversation sama mengajak partisipan untuk bersama menciptakan sejarah yang layak diingat sebagai memori baik untuk anak dan keturunan kita. (Nurjanni/Red) 

Share :

Baca Juga

Kabar

RPI Gelar Seminar Nasional Senja di Kaimana, Keynote Speech Wakil Bupati Kaimana Hasbullah Furuada
Kasat Lantas Polres Halteng, IPTU H. Amas Aba

Kabar

Sebanyak 84 Pengendara ditindak Polres Halteng Selama Operasi Patuh Kie Raha 2020
Ketua KPU Kota Tdore saat melakukan kunjungan ke kediaman Calon Wakil Wali Kota Muhammad Sinen

Kabar

LADK Paslon diumumkan oleh KPU Kota Tidore
Kades Koli, Jabir Musa

Kabar

Desa Koli Dapat Bantuan Mobil, Begini Kata Kades
Pjs Walikota Ansar Daaly melakukan tatap muka dengan Camat beserta Lurah, Kepala Desa serta Tokoh Masyarakat

Kabar

Pastikan Kesiapan Kecamatan Hadapi Pilkada, Pjs Walikota Tidore lakukan Kuker

Kabar

Demo PLN Maffa, Masyarakat Minta Datangkan Teknisi Ahli Untuk Perbaikan Mesin
Anggota Satgas TMMD ke - 108 Kodim/1505 Tidore bersama warga membangun jembatan penghubung di Desa Bangul, Kec. Maba Tengah, Kab. Haltim. Sabtu, (04/07)

Kabar

Semangat Satgas TMMD di Haltim bersama Warga dalam Membangun Jembatan

Kabar

2.500 APD untuk Penanganan Covid-19 di Malut Kembali Disalurkan TNI