Home / Opini

Senin, 21 Desember 2020 - 14:23 WIB

Tentang ini, Saya Sangat Egois

Oleh: Reza A.A Wattimena*

Kita pasti pernah mengalami perubahan suasana hati tiba-tiba. Kata-kata orang lain yang menyakitkan, misalnya, bisa memicu itu. Lalu, pikiran kacau. Emosi pun memuncak.

Saya juga pernah mengalami hal serupa terkait dengan cuaca. Tiba-tiba, cuaca berubah total. Hujan lebat mengguyur. Seluruh tubuh, termasuk dompet dan alat elektronik saya, basah sampai ke dalam. Suasana hati langsung rusak.

Ini juga bisa terjadi, ketika kita teringat masa lalu. Lagu yang sedang bersenandung. Tempat-tempat yang penuh kenangan. Semua itu bisa membawa kita ke masa lalu, dan mengubah suasana hati yang ada.

Kecemasan akan masa depan pun punya akibat serupa. Kita khawatir akan apa yang belum terjadi. Biasanya, kita khawatir, jika “ada apa-apa”. Pikiran pun langsung lari ke arah ketakutan, membawa emosi kita bersamanya.

Ini artinya, hidup kita ditentukan oleh keadaan sekitar kita. Kita belum bebas. Mungkin, kita merasa bebas. Tetapi sesungguhnya, kita diperbudak oleh keadaan.

Inilah perbudakan yang paling halus, sekaligus paling mengerikan. Ekonomi boleh maju dan mapan. Pendidikan boleh tinggi. Penampilan boleh menakjubkan. Namun, jika keadaan hati kita masih ditentukan oleh keadaan di luar diri kita, kita masih menjadi budak yang paling menderita di muka bumi.

Dalam hal ini, saya egois. Saya tidak mau kebahagiaan saya ditentukan oleh keadaan di luar diri saya. Dunia boleh hancur. Ekonomi boleh berantakan. Namun, saya memilih untuk tetap gembira dan bahagia.

Baca juga  Optimisme dan Pemulihan Ekonomi Halmahera Barat

Orang boleh memfitnah. Mereka boleh berbohong kepada saya. Namun, saya memilih untuk tetap gembira dan bahagia. Sekali lagi, dalam hal ini, saya egois.

Bagaimana caranya? Ada dua hal sederhana yang bisa dilakukan. Pertama, lenyapkan semua ekspektasi, atau harapan kita, bahwa keadaan disini dan saat ini harus sesuai keinginan kita. Ini racun yang harus dibuang jauh-jauh.

Buang harapan, bahwa orang akan selalu baik. Buang harapan, bahwa cuaca akan selalu cerah. Buang harapan, bahwa saya bisa mengatur semuanya sesuai keinginan saya. Buang jauh-jauh racun pikiran itu.

Lalu, kita bisa hidup sepenuhnya disini dan saat ini. Kita bisa melakukan apa yang perlu dilakukan. Kita tidak hidup dalam mimpi. Kita menjadi sepenuhnya manusia nyata.

Lagi pula, ekspektasi ataupun harapan itu bukanlah milik kita. Itu adalah hasil cuci otak dari masyarakat. Itu ekspektasi ataupun harapan dari orang tua kita, maupun dari guru-guru kita. Itu juga ekspektasi dari buku ataupun video yang pernah kita lihat. Mereka bukan milik kita.

Itu benda asing. Itu bangkai dari masa lalu. Jangan hidup dengan bangkai. Saya tidak mau. Dalam hal ini, saya egois.

Dua, setiap saat, kita perlu kembali terhubung ke kehidupan. Kita kerap lupa akan hal ini, karena hanyut dalam pikiran dan emosi. Kita mengira, pikiran dan emosi adalah diri kita yang sebenarnya. Ini salah paham yang selalu berujung pada nestapa.

Baca juga  Advokasi Penggunaan Dana Desa

Perhatikan apa yang hidup di dalam tubuh kita. Detak jantung, gerak napas, aktivitas panca indera, semuanya adalah tanda-tanda kehidupan. Letakkan perhatian disitu selama beberapa saat. Kamu adalah kehidupan, bukan pikiran atau emosi yang datang dan pergi.

Saya menerapkan dua metode ini. Saya tidak lagi menjadi budak. Keadaan di luar, yang terus berubah, tak saya biarkan mempengaruhi hidup saya. Saya adalah kehidupan, bagian dari energi maha besar yang mencipta dan merawat alam semesta, dan segala yang ada.

Politik kacau. Ekonomi hancur. Banyak orang sakit dan meninggal. Saya tidak membiarkan itu semua mengacaukan hidup saya. Apapun yang saya bisa lakukan untuk membantu, pasti saya lakukan.

Namun, saya tidak mau mengorbankan kegembiraan saya. Saya tidak mau mengorbankan kedamaian dan sikap welas asih di dalam diri saya. Tentang ini, saya sangat egois. Anda tertarik mengikuti?

*Peneliti di bidang Filsafat Politik, Filsafat Ilmu dan Kebijaksanaan Timur. Alumni Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, Doktor Filsafat dari Hochschule für Philosophie München, Philosophische Fakultät SJ München, Jerman.

Share :

Baca Juga

Opini Rumah Produktif Indonesia

Opini

Pancasila Sebagai Inspirasi Manusia Indonesia

Opini

Air dan Konflik

Opini

Labilitas Kebijakan di Tengah Pandemi Covid-19

Opini

Musik, Integrasi Sosial, dan Agen Kultural

Opini

Wajah “Hitam” Amerika

Opini

Milad GMNI Ke-67, Rekonsiliasi Adalah Solusi Terbaik
Yanuardi Syukur, Presiden Rumah Produktif Indonesia

Opini

Batik, Warisan Kemanusiaan Indonesia
Mohbir Umasugi

Opini

Advokasi Penggunaan Dana Desa