Home / Opini

Rabu, 28 April 2021 - 13:15 WIB

Spiritualitas Uang

masterfile.com

masterfile.com

Oleh: Reza A.A Wattimena

Dua kata ini, yakni spiritualitas dan uang, kerap kali dipisahkan. Spiritualitas dilihat sebagai sesuatu yang terkait dengan hal-hal yang suci, jauh dari uang. Sementara, uang dilihat tidak hanya sebagai pemenuh kebutuhan manusia, tetapi juga lambang harga diri di mata masyarakat. Uang kerap dicari dengan penuh ambisi dan kerakusan.

Pemahaman ini berbahaya. Tanpa campur tangan spiritualitas, uang akan menjadi alat untuk menindas orang lain dan alam. Uang akan menjadi pemuas kenikmatan yang menggiring orang pada kekosongan dan kehancuran hidupnya. Dalam arti ini, spiritualitas adalah perluasan identitas manusia dari sekedar diri pribadi menjadi seluas semesta.

Di banyak tempat di dunia, agama juga terpisah dari spiritualitas. Di berbagai kesempatan, agama pun menjadi alat untuk mengumpulkan uang, sekaligus memperoleh kekuasaan politik secara kotor untuk kepentingan busuk. Percampuran tak sehat antara politik, ekonomi dan agama kiranya sudah menjadi gejala yang sangat merusak di Indonesia.

Di Indonesia juga, uang membelah masyarakat ke dalam dua kelas, yakni kelas kaya dan kelas miskin. Ketimpangan sosial yang amat tajam pun terjadi. Di tengah pandemik yang tak berkesudahan, dampak ekonomi juga terus terasa. Ketimpangan pun semakin besar dan semakin terlihat di berbagai tempat di Indonesia.

Baca juga  Bijaksana Saat "Dipaksa Jeda"

Hubungan antara uang dan hidup manusia tentu harus ditelaah kembali. Uang harus dilihat sebagaimana adanya, yakni sebagaimana fungsi asalinya. Dititik inilah spiritualitas uang berperan penting. Ada tiga hal yang kiranya penting untuk diperhatikan.

Salah Paham Uang

Pertama, di dunia sekarang ini, uang kerap kali dilihat sebagai tujuan. Orang hidup dan bekerja untuk memperoleh uang. Orang menipu dan korupsi untuk mendapat uang lebih banyak. Tak hanya itu, orang bahkan saling menyakiti dan membunuh untuk bisa memperoleh uang.

Dua, uang pun menghasilkan kelekatan. Jika ada uang, orang merasa bahagia. Jika kehilangan uang, orang pun merasa menderita. Uang telah menjadi sumber kebahagiaan bagi banyak orang.

Tiga, uang juga kerap menjadi ukuran dari harga diri seseorang. Dengan uang, ia menjadi berharga di mata masyarakat, walaupun caranya memperoleh uang patut dipertanyakan. Tanpa uang, orang dianggap sebagai tak berguna dan tak bernilai. Herbert Marcuse, pemikir Jerman, menyebut ini sebagai Sein als Haben, yakni keberadaan orang yang dilihat dari jumlah uang dan harta benda yang ia punya.

Spiritualitas Uang

Spiritualitas uang berarti, orang menempatkan uang di dalam peran yang sebenarnya. Dengan identitas seluas semesta, orang bekerja untuk memperoleh uang. Ia pun menggunakan uang dari sudut pandang semesta tersebut. Ada tiga hal yang penting untuk diperhatikan.

Baca juga  Dilema Santri Intelektual

Pertama, uang ditempatkan sebagai alat untuk kehidupan. Ia bukan tujuan, karena tujuan tertinggi dalam hidup manusia adalah untuk hidup seutuhnya. Jika uang menganggu tujuan ini, maka ia perlu dilepaskan. Uang juga dilihat sebagai alat untuk menyejahterakan masyarakat secara luas, dan bukan sekelompok orang semata.

Dua, uang pun tidak dijadikan obyek kelekatan. Kebahagiaan manusia berakar pada keberadaan dirinya yang hidup seutuhnya. Ia tidak bergantung pada uang, ataupun benda-benda lainnya. Kebahagiaan manusia juga tidak bergantung pada keberadaan orang lain.

Tiga, harga diri pun dilepaskan dari uang. Manusia berharga dan bermartabat di dalam dirinya sendiri. Tidak ada kaitan dengan harta benda maupun uang yang ia punya. Spiritualitas akan membawa orang pada hubungan yang sehat dan seimbang dengan uang.

Kiranya benar kata Michael Sandel, seorang pemikir Amerika Serikat. Hal-hal yang paling berharga di dunia ini tak bisa dibeli dengan uang, karena ia gratis. Ini kiranya juga sejalan dengan kebijaksanaan Zen, bahwa benda yang paling mahal di dunia ini adalah kepala kucing mati. Mengapa? Karena tak seorang pun yang tahu harganya!

Share :

Baca Juga

Opini

Rasisme: Dari Sejarah, Budaya sampai dengan Gerak Pikiran
dr. Taufan Ikhsan Tuarita

Opini

Kemerdekaan dan Ketidakmerdekaan: Sebuah Refleksi

Opini

Wajah “Hitam” Amerika
Rusly Saraha

Opini

Coklit

Opini

BLT dan Problem di Dalam Problem
Basri Amin

Opini

Literasi (Peradaban) Gunung
Yanuardi Syukur (istimewa)

Opini

Ada Apa dengan Om Anca? 

Opini

Masyarakat Melambat