Home / Opini

Kamis, 6 Mei 2021 - 14:06 WIB

Meneguhkan Tri Komitmen Kader (Refleksi Hari Bangkit PII Ke 74)

Dedi M. Buamona

Dedi M. Buamona

Oleh : Dedi M. Buamona (Sekwil PW PII Malut Periode 2006-2008)

Adalah PII, didirikan pada ahad 4 Mei 1947 bertepatan dengan 12 Jumadi Tsani 1366 H di Yogyakarta 2 tahun pasca kemerdekaan Indonesia, dengan tokoh pendirinya yaitu Yoedi Ghazali, Anton Timur Djaelani, Amin Syahr, Ibrahim Zarkasyi, Noesyaf dan beberapa tokoh lainnya. PII merupakan salah satu organisasi pelajar islam yang fokus bergerak di bidang kepelajaran dan pengkaderan dengan tujuan terciptanya kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan yang sesuai dengan Islam bagi seluruh rakyat Indonesia dan ummat manusia. Terdapat dua hal yang ingin dicapai oleh PII yakni kesempurnaan pendidikan dan kebudayaan dimana kedua komponen tersebut merujuk kepada Islam sebagai sumber nilai dan pandangan dunia (Islamic Worldview) sedangkan segenap rakyat Indonesia dan ummat manusia adalah setting sosio-historis. Orientasi pergerakan PII termuat dalam tafsir azasi PII yang ditetapkan pada Kongres PII di Kediri tahun1953 yang menyebutkan bahwa PII ada dalam rangka menjaga dan mengisi kemerdekaan Indonesia.

Bagian dari latar belakang berdirinya PII adalah agama dan Negara. Perdebatan politik waktu itu tentang dasar negara menjadi issu sentral. Masyarakat memahami bahwa agama merupakan bagian yang terpisah dari negara. Alam dikotomi yang memisahkan antara perkara keduniaan dan keakhiratan ini merupakan warisan penjajah Belanda yang dalam sejarah kemajuan ilmu pengetahuan ditempuh dengan pemberontakan Gereja. Bagi penjajah pengalaman keagamaan ini sangat menguntungkan.

Warisan pola pikir dikotomi itu telah membias pada masyarakat pelajar sehingga membuat Joesdi Gajali menjadi prihatin, antara santri di pondok pesantren dengan pelajar di sekolah umum saling mengejek. Dengan demikian bagaimana Umat Islam dapat membangun Bangsa dan Negara kalau dari masa pelajarnya saja sudah terpecah belah. Joesdi dengan PII menginginkan bahwa Agama dan Negara bukan sesuatu yang terpisah namun satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan sehingga dikembangkan pemikiran pengetahuan keagamaan dan ilmu pengetahuan keduniaan itu adalah satu. Dari pemikiran tersebut diharapkan PII dapat melahirkan “Kader intelek yang Kyai dan Kyai yang intelek”.

Baca juga  Milad GMNI Ke-67, Rekonsiliasi Adalah Solusi Terbaik

Islam merupakan agama yang memiliki nilai-nilai Universal sehingga dakwah Agama Islam juga harus meliputi seluruh ummat manusia, tidak dibatasi oleh sekat-sekat suku bangsa dan teritorial tertentu. PII sebagai salah satu pergerakan dakwah menjadikan ummat Islam sebagai wilayah garap dakwahnya. Indonesia menjadi wilayah dakwah bukan berarti PII membatasi wilayah dakwahnya terlokalisir pada teritorial tertentu saja namun memahami bahwa Bangsa Indonesia merupakan bagian dari ummat manusia itu sendiri.

Secara terminologi, ada tiga kata penting yang membangun PII sebagai satu kesatuan nama yang disebut dengan tri komitmen PII (Baca : Falsafah gerakan PII). Pertama komitmen kepelajaran, bagi PII dunia pelajar merupakan segmen sosial yg diprioritaskan dalam melakukan pembinaan dan juga tidak terlepas dari makna strategi yaitu pelajar merupakan representasi dari lapisan sosial yang memiliki jumlah massa sangat besar sehingga keberadaannya harus menjadi realitas yang diperhitungkan dalam pengambilan kebijakan sosial (public policy making) dalam bidang-bidang tertentu. Secara politis kaum pelajar merupakan keterwakilan komunitas terdidik dan relatif berperadaban sehingga peranannya dalam proses perubahan sosial menjadi sebuah keniscayaan. Kedua komitmen Keislaman, Islam merupakan fundamental values yang membangun organisasi PII sehingga segala bentuk gerak langkah yang diambil harus dalam perspektif Islam. Pengakuan atas kemutlakan Islam (universalitas) berbuah pada komitmen yang tinggi setiap kader PII terhadap islam yang dimanifestasikan dalam komitmen berislam. Ketiga komitmen Keindonesiaan, komitmen PII terhadap negara bukan diberikan kepada Pemerintah (penguasa) namun kepada eksistensi Negara itu sendiri yang di dalamnya mencakup fungsi-fungsi keadilan, kesejahteraan, dan kemakmuran sehingga komitmen PII terhadap Negara adalah komitmen penegakan atau tranformasi nilai-nilai Ilahiyah berupa keadilan, pemerataan kesejahteraan dan kemakmuran. PII akan tetap menjaga kondisi Wilayah ini agar senantiasa kondusif bagi kelangsungan dakwah Islam.

Baca juga  Musik, Integrasi Sosial, dan Agen Kultural

Tepat pada 4 Mei 2021 PII genap berusia 74 tahun, sungguh usia yang tak mudah lagi. Sudah banyak sumbangsi yang diberikan PII untuk Bangsa dan Negara ini namun bukan berarti PII sudah merasa cukup dan berhenti melangkah. Semangat 4 Mei akan tetap dikobarkan, Selamat Hari Bangkit (Harba) PII ke 74 tahun semoga Allah swt selalui meridhoi dan memberika kekuatan kepada kita semua untuk terus berbakti kepada Agama dan Negara. Aamiin

Share :

Baca Juga

https://rumahfilsafat.com

Opini

Batu yang Dilempar Pasti Kembali ke Tanah

Opini

Beragama yang Serius

Opini

Pemuda Indonesia Pasca Covid-19

Opini

Memanusiakan Sistem

Opini

Swasembada Pangan di Negara Surga
Ustad. Irham Amal Tomagola

Opini

Suksesi Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur’an
Reza A.A Wattimena

Opini

Kekuasaan dan Hakekat Manusia

Opini

Tentang ini, Saya Sangat Egois