Home / Opini

Minggu, 27 Juni 2021 - 16:10 WIB

Harry Santosa, Mengangkat Batu-batu Kecil

Sumber : https://wartapilihan.com

Sumber : https://wartapilihan.com

Oleh: Yanuardi Syukur

Dibutuhkan tenaga dari seluruh desa untuk membesarkan seorang anak.” –Kata bijak

Harry Santosa adalah integrator berbagai pemikiran pendidikan untuk kembali kepada fitrah. Misi hidupnya, “ingin mengembalikan kesejatian pendidikan,” yakni pendidikan berbasis fitrah, atau fitrah based education–sebuah program sekaligus judul buku best-seller-nya, Fitrah Based Education, yang terus diperbaiki versinya dari waktu ke waktu.

Ayah dengan satu orang istri dan lima anak, serta cinta pada pendidikan. Sejak muda ia aktif dalam dunia riset, mengajar, dan jadi pembicara di berbagai event. Khusus di masa pandemi, ia kerap hadir dalam berbagai acara zoom yang fokusnya tidak jauh dari fitrah based education (FBE), sebuah konsep menarik dengan intensi purifikasi pendidikan sesuai dengan fitrah manusia.

Beretnik Sunda Ciamis, Harry lahir di Jakarta pada Januari 1969. Alumni UI, dan aktif menimba ilmu dari berbagai pelatihan di dalam dan luar negeri. Ia juga jadi konsultan lebih dari 15 tahun untuk perusahaan swasta dan pemerintah.

Di Facebook, Harry Santosa rutin berbagi info kegiatannya, bahkan menjadi konsultan gratis bagi kawan FB yang bertanya terkait topik yang diminatinya: pendidikan berbasis fitrah. Dalam bukunya yang diterbitkan Yayasan Cahaya Mutiara Timur, FBE disebutnya sebagai “model pendididkan peradaban”. Intinya, tujuan pendidikan adalah mencetak manusia agar jadi orang baik dan jadi arsitek peradaban.

Saya mengikuti pemikiran Harry Santosa dari istri saya yang aktif di Institut Ibu Profesional (IIP) chapter Depok, bahkan pernah hadir dalam acara gathering-nya beberapa kali. Selain itu, saya juga mengikutinya lewat diskusi yang diselenggarakan oleh dua psikolog inspiratif founder ‘anger management’, Dandi Birdy dan Diah Mahmudah, dan juga dari ketika sama-sama memberikan endorsement buku karya anaknya Muhammad Sutiyadi, Nabila Nur Zahra, Bukan Homeschooling Biasa (Desember 2020).

Inspirasi

Sebagai integrator dan inovator, Harry Santosa mengkaji banyak pemikiran pendidikan kemudian mengintegrasikannya dengan menghadirkan interpretasi baru atas pendidikan. Dia terinspirasi dari Imam Syafi’i, Imam Al-Ghazali, Ibnu Khaldun, Ibnu Taimiyyah, Francois Guizot, Hasyim Asy’ari, Ralph W. Emmerson, Bediuzzaman Said Nursi, Charlotte Mason, Ahmad Dahlan, HOS Cokroaminoto, Ki Hadjar Dewantoto, Arnold J. Toynbee, Mohammad Syaefi, Malik Bennabi, dan Hasan Al-Banna. Para tokoh ini dikategorikannya sebagai ‘tokoh klasik’ dalam kontributif dalam pemikirannya.

Sedangkan ‘tokoh kontemporer’ yang menginspirasinya adalah Buya Hamka, KH. Imam Zarkasyi, Paulo Freire, Donald O. Clifton, Ivan Illich, Syed M. Naquib Al-Attas, Malik Badri, Sir Ken Robinson, Sugatra Mitra, Rhenald Kasali, Daniel H. Pink, Cameron Herold, Marcus Buckingham, M. Anis Matta, Thomas Armstrong, dan Simon Sinek. Tokoh-tokoh ini juga beragam, namun umumnya mereka adalah pemikir yang berani berbeda dari mainstream.

Masih dalam bukunya, Harry juga menuli guru dan koleganya yang sama-sama mengajarkan fitrah based education, yakni Abah Rama, Adriano Rusfy, Septriana Murdiani, Bendri Jaisyurrahman, Dodik Mariyanto, Septi Peni Wulandani, Suhendi, Achmad Ferzal, Muhammad Ferous, Dewi Utama Faizah, dan Ines Setiawan. Para pengajar, atau disebut ‘pengisi perkuliahan’ adalah tokoh dengan pengikut/santri/kolega yang cukup banyak di Indonesia, khususnya dalam dunia pendidikan.

Khusus inspirasi dari Syed M. Naquib Al-Attas, Harry Santosa juga mengambil inspirasi dari murid dan kolega Al-Attas seperti Prof Wan Mohd Nur Wan Daud, dan jaringan INSISTS di Indonesia. Dalam FitrahWorld Movement 2020, sebuah gerakan yang diinisiasinya, ia menjadi pemandu yang menghadirkan 28 pakar dan praktisi dalam tiga ranah: pemikiran Islam, gerakan sosial keluarga, dan gerakan ekologi.

Baca juga  Penerapan PSBR dan Surat Pemberitahuan dari Optik Hukum serta Dampak Sosial

Beberapa tokoh dan peneliti INSISTS yang jadi pembicara adalah Dr. Hamid Fahmi Zarkasyi (kini profesor di Unida, Ponorogo), Dr. Adian Husaini, Dr. Syamsuddin Arif, Dr. Dinar Dewi Kania, Dr. Henry Shalahuddin, Dr. Muhammad Ardiansyah, Dr. Wido Supraha, Dr. Malki Ahmad Nasir, Asep Sobary, Lc, dan Dr. Ugi Suharto. Sebagai yang terinspirasi dari Syed Al-Attas, sinergi dalam satu jejaring pemikiran dan gerakan akan lebih bermakna tidak hanya untuk memperkaya knowledge tapi juga untuk menguatkan movement dalam membentuk dunia sesuai yang dicita-citakan.

Garis besar pemikiran

Menjelaskan tentang pendidikan berbasis fitrah, Harry Santosa membedakan antara ‘the purpose of life’, ‘the mission of life’, dan ‘the vision of life’. Maksud kita hidup ditetapkan Allah meliputi: ibadah, imaroh, khalifah, dan imama. Hal ini merupakan tujuan penciptaan kita, agar menjadi pengabdi dan pemimpin di atas bumi yang menyebarkan ajaran ketuhanan. Mulai dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad, yang diikuti oleh para sahabat, tabi’in, tabi’it tabi’in dan ulama, semuanya melanjutkan risalah sebagai pengabdi kepada Allah dan pemimpin manusia ke jalan yang benar.

Misi hidup terbagi dua: misi personal (peran peradaban personal) untuk menebar rahmat bagi semesta & membawa kabar gembira dan peringatan dan misi komunal (peran peradaban komunal) sebagai umat terbaik dan umat pertengahan. Pemahaman atas dua misi ini menjadikan manusia tidak hanya menjadi orang bermanfaat tapi sekaligus membawa kabar gembira (basyira) dan peringatan (nadzira) sebagaimana yang dibawa oleh para anbiya dan rasul. Kemudian, secara komunal mereka tampil di atas bumi sebagai umat terbaik dan pertengahan.

Sedangkan visi hidup terkait dengan ‘apa yang menginspirasimu’ dalam arti cita-cita harus selaras dengan misi, cita-cita adalah milestone dari misi, cita-cita punya hasil yang ingin dicapai, dan cita-cita punya ukuran yang berdampak pada hasil. Untuk mendapatkan bahagia di dunia dan akhirat, sebagai cita-cita, seseorang perlu menyelaraskannya dngan misi penciptaannya tadi. Jadi, tujuan akhir manusia membawanya untuk melakukan apa yang diajarkan oleh agama.

Sebagai pembentuk peradaban, Harry mengutip Malik Bennabi dalam melihat dimensi peradaban, yakni adanya insan, tanah, dan masa. Ketiganya itu ditambah dengan agama sebagai katalisator peradaban. Jadi, agama sebagai life system dari interaksi antara human (manusia), earth (bumi) dan time (waktu kehidupan) yang hasil interaksi itu akan membentuk peradaban.

Untuk membentuk manusia berperadaban, Harry menyusun fitrah laki-laki dan perempuan. Fitrah laki-laki (fitrah keayahan) meliputi fitrah keimanan (a man of mission & vission), fitrah jasmani (healthy & physical skill developer), fitrah belajar dan bernalar (thinking system builder), fitrah seksualitas (masculinity supplier education responsibility), fitrah individualitas-sosialitas (ego system & eco system builder), fitrah perkembangan (personal growth builder), fitrah bakat (professional builder), dan fitrah estetika & bahasa (a great narrator & communicator). 

Sedangkan fitrah perempuan (fitrah kebundaan) meliputi fitrah keimanan (a person of love and sincerity), fitrah jasmani (health environment & nutrition maker), fitrah belajar dan bernalar (wisdom & knowledge keeper), fitrah seksualitas (femininity supplier & daily education executor), fitrah individualitas-sosialitas (ocean of forgiveness & sacrifice), fitrah perkembangan (the personal counseling & therapist), fitrah bakat (the owner conscience & morality), dan fitrah estetika & bahasa (the harmony & aesthetic keeper).

Masa depan pemikiran dan gerakan

Baca juga  Warisan Nasionalisme Untuk Kaum Milenial

Sebagai gerakan baru, FitrahWorld Movement menjanjikan untuk dikembangkan dalam membentuk generasi Indonesia yang ideal. Nilai-nilai pembentukan manusia dalam konsep tersebut sifatnya universal dalam arti dapat diaplikasikan oleh pemeluk selain Islam.

Pemikiran pendidikan berbasis fitrah itu hendak menciptakan manusia ideal berdasarkan potensi tiap anak yang beragam yang didukung oleh sistem kultural yang relevan untuk itu. Namun tidak semua kultur dapat mensupport itu, maka gerakan ini mengambil porsi dari rumah, atau ‘gerakan mencetak generasi fitrah dari rumah.’ Rumah sebagai tempat sosialisasi kultural pertama anak manusia harus sevisi, dan itu berarti harus dimulai pula dari kesamaan visi dan misi orang tua.

Harry tidak punya banyak intensi untuk mengubah secara struktural, akan tetapi memilih untuk bergerak secara kultural. Seperti kata kata bijak, ia memilih menggerakkan gunung dengan mulai mengangkat batu-batu kecil secara bertahap.

Pekerjaan ini memang kelihatannya biasa saja, karena orang cenderung menganggap ‘yang namanya pendidikan itu di sekolah’, padahal sebelum adanya sistem sekolah, rumahlah yang jadi lembaga penting dalam mencetak anak. Maka, sosialisasi ‘pendidikan dari rumah’ sangat penting untuk itu, apalagi di masa pandemi Covid-19 durasi orang akan lebih banyak di rumah ketimbang di luar.

Konten yang terlihat masih kurang dalam konsep ini adalah dalam pendidikan bercerita, khususnya mendongeng. Bercerita dan mendongeng cukup ampuh dalam transmisi pengetahuan dari generasi ke generasi. Cerita ‘1001 malam’, ‘Layla Majnun’, ‘Kalilah & Dimnah’, atau ‘Qira’ah Rasyidah’ yang diajarkan di pesantren-pesantren itu adalah dongeng yang sangat inspiratif.

Konon, tulis Stephen Winick di blog Library of Congress (18 Desember 2013), dalam cerita rakyat yang diasosiasikan sebagai ‘Einstein’s folklore’, fisikawan Albert Eintein pernah berkata, “If you want your children to be intelligent, read them fairy tales. If you want them to be more intelligent, read them more fairy tales.” Terjemahannya: “Jika Anda ingin anak Anda cerdas, bacakan dongeng untuk mereka. Jika Anda ingin mereka menjadi lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.” Berarti, cerita atau dongeng punya daya magis untuk membentuk manusia kuat dan berkarakter.

Sebagai gerakan, ide pendidikan berbasis fitrah ini menarik untuk dieksplorasi dalam konteks memperkaya dan melengkapi sistem pendidikan nasional kita yang ideal secara konsep namun harus diakui membutuhkan penyegaran-penyegaran. Berbagai kasus korupsi, penyimpangan, tawuran, dan problematika sosial kontemporer–termasuk di dunia maya–yang dilakukan oleh kalangan terdididik (tamat pendidikan formal) patut untuk direnungkan; apa yang kurang dalam sistem pendidikan kita.

Untuk itu, butuh banyak pertemuan antarpegiat pendidikan agar merumuskan konsep terbaru yang menyegarkan serta relevan untuk manusia Indonesia. Apa yang dilakukan Harry Santosa lewat pendidikan berbasis fitrah ini patut untuk dikaji dan dikembangkan sebagai salah satu pilihan dalam mencetak manusia Indonesia yang ideal. *

Depok, 27 Juni 2021

– in memoriam Ustadz Harry Santosa (w. 27 Juni 2021)

Share :

Baca Juga

Jelajah

Nasib Museum Rempah di Masa Pandemi (Refleksi Hari Museum Internasional)
Reza A.A Wattimena

Opini

“Hollgemoni”: Senjata Terkuat di Dunia
https://id.pinterest.com

Opini

Tentang Menikah dan Punya Anak, Sebuah Pertimbangan Kritis
Hari Pancasila

Opini

Memaknai Hari Pancasila Sebagai Asas Kemerdekaan Berdemokrasi
Rusly Saraha

Opini

Coklit

Opini

Viral-Viral Kita

Opini

Banjir
https://id.pinterest.com/pin/514184482451790959/?hcb=1

Opini

Ketidaktahuan yang Agung