Home / Opini

Selasa, 17 Agustus 2021 - 13:23 WIB

Merdeka dari Kebodohan

Oleh: Yanuardi Syukur

Amanat dari alinea keempat Pembukaan UUD 1945 salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Berarti, mengangkat kehidupan bangsa yang tidak cerdas alias bodoh menjadi cerdas.

Saat kata ‘bodoh’ diucapkan pasti tidak enak didengar. Orang bisa dianggap sombong ketika misalnya mengatakan orang lain bodoh. Tapi, jika melihat makna batin dari kalimat di atas, ‘mencerdaskan’ yang sampai sekarang masih kita pakai, berarti kebodohan itu ada, dan olehnya itu harus diselesaikan dengan pencerdasan.

Upaya mengentaskan kebodohan itu terus-menerus dilakukan baik formal dan nonformal. Orang-orang bersekolah mulai PAUD sampai perguruan tinggi. Akan tetapi, kenapa banyak lulusan perguruan tinggi yang jadi ‘pintar-pintar bodoh’?

Maksudnya, secara formal dia pintar, dapat gelar sarjana, tapi apa yang keluar dari ucapan dan pemikirannya menunjukkan kebodohan. Kebodohan itu misalnya terlihat dari ucapan yang asal-asalan (jauh dari tradisi akademik yang pernah dilalui), atau tindakan yang tidak bertanggungjawab seperti penyalahgunaan wewenang. Padahal, dia tahu bahwa itu keliru secara akal dan hati, tapi kenapa dilakukannya?

Baca juga  Sepucuk Harapan Menuju Konfercab NU Tikep

Di sini, orang pintar itu kembali jadi bodoh. Berarti, pendidikan formal yang kita miliki tidak jadi jaminan 100 persen akan membuat kita pintar dalam semua segi. Pintar di satu sisi bisa jadi bodoh di sisi yang lain. Menyadari itu, seharusnya kita berfokus pada apa yang kita kuasai saja, bukan mau memasuki hal-hal yang kita tidak tahu. Itu sikap yang paling bijaksana, agar kebodohan pada sisi lain tidak membuat seseorang tambah bodoh karena memaksa untuk berkomentar sesuatu yang dia tidak tahu.

Perjuangan kita saat ini masih tetap memerangi kebodohan. Prinsipnya, kita semua pintar di satu sisi tapi bisa jadi bodoh di sisi lainnya. Anehnya, beberapa tahun terakhir ada banyak orang yang menjadi komentator banyak hal dengan menunjukkan keyakinan dan kepintaran. Tapi, makin seseorang menunjukkan–bahwa dia pintar–terkadang malah sebaliknya, makin terbuka dan menganga kebodohannya.

Baca juga  Suksesi Kepemimpinan dalam Perspektif Al-Qur'an

Obat kebodohan adalah belajar. Belajar dimulai dengan bertanya pada ahlinya. Membaca satu berita tidak lantas membuat orang sudah tahu sesuatu. Apalagi jika berita itu diproduksi untuk framing tertentu. Kita harus berhati-hati dengan framing yang diniatkan untuk menjatuhkan sesuatu, bukan mencari kebenaran. Tulisan yang mencari kebenaran cenderung untuk melihat sesuatu lebih objektif, tenang, dan tidak maksa.

Tugas kita dalam perayaan kemerdekaan tahun 2021 ini masih tetap memberantas kebodohan. Kebodohan online cukup penting jadi perhatian. Bijaksana menggunakan medsos adalah sarana untuk mengerem kebodohan.

Jangan sampai sudah bodoh, karena ingin mengomentari semuanya, jadi bertambah kebodohan itu. Mari sama-sama kita entaskan kebodohan dengan lebih banyak belajar, dan kalau tidak tahu, maka bertanya.*

Depok, 17 Agustus 2021

Share :

Baca Juga

Opini

Merindukan Sosok “Ilmuwan-Pemimpin”
Prof.Dr.HM.Rasyidi

Opini

Pahlawan Nasional untuk Profesor Rasyidi
Opini Rumah Produktif Indonesia

Opini

Pancasila Sebagai Inspirasi Manusia Indonesia
Yanuardi Syukur (Istimewa)

Opini

Kebudayaan, Makna Batiniah, dan Tulisan

Opini

Banjir
Dr. Marwan Polisiri

Opini

Covid-19 dalam Perspektif Antropologi Kesehatan
Sumber : https://wall.alphacoders.com/big.php?i=721191

Opini

Kopi dan Kita

Opini

Pancasila, Halmahera dan Dunia