Home / Opini

Sabtu, 9 Oktober 2021 - 19:22 WIB

Musik, Integrasi Sosial, dan Agen Kultural

“Musik mampu membuat kita merasa bahagia atau sedih, santai atau energik, mampu membangkitkan kenangan berharga…”
(O’Hara dan Brown, 2006: 3).

Konsep musik dalam tulisan ini dimaksudkan sebagai musik yang dikemas dengan nuansa etno-kultural. Selain nada dan irama, syair lagu sarat dengan bahasa daerah (lokal). Penuh metafora, simbolisasi, petuah-petuah, humanis, penuh kecintaan kepada Sang Khalik, alam, dan antar sesama. Untuk Maluku Utara, musik (lokal) lebih bernuansa campuran : populer, qasidahan, bertaut ritme etnik, di mana hampir sebagian syairnya bermula dari ungkapan-ungkapan dolabololo, petitih orang tua, penuh makna.

Era sekitar 1970/1980-an, hadir lagu Moloku Kie Raha dari beberapa anak muda Ternate yang berhijrah ke Papua dan bergabung membentuk grup musik Black Sweet, sebuah lagu yang menggambarkan keindahan Maluku Utara. Di tahun 1980/1990-an, syair musik lokal diramaikan dengan petuah-petuah dan ungkapan penuh cinta. Loela Drakel, sebut salah satunya, merupakan penyanyi yang menjadi lokomotif bagi sosialisasi musik lokal. Walau pun jauh sebelumnya mungkin telah ada penyanyi/seniman lain. Namun, melalui suara khas Loela Drakel, pesan-pesan syair itu pun begitu familiar dan terintegrasi dengan kehidupan sosial masyarakat Maluku Utara. Mungkin masih akrab di telinga kita lagu Borero (Pesan) yang begitu fenomenal dalam alam pikiran masyarakat Maluku Utara, hingga berhasil berada di panggung blantika musik nasional. Kemudian Towako Rewa (Tak Akan Kembali Lagi), atau kumpulan lagu-lagu Maluku Utara yang melibatkan Om Desa (Hasan Wahidin, alm), Melky Goeslaw (alm), Hamdan Komdan (alm), dan lain-lain, serta masih panjang lagi deretan lagu-lagu lokal yang dinyanyikan Loela Drakel.

Pasca Loela Drakel yang kemudian berganti haluan menyanyikan lagu-lagu pop-Manado, ternyata hadir wajah-wajah baru potensial. Sebut salah satu Thae Umar yang memiliki karakter suara khas. Nikmati lagu Sojira Ngori Afa (Jangan Salahkan Aku) yang –kalau tidak salah—mengalami dua kali aransemen, telah mengokohkan otoritas Thae sebagai penyanyi lokal berbakat. Lalu simak lagu Gate Cum Poga Salese (Sakit Hati) serta banyak lagu-lagu lokal lainnya yang diciptakan dan dinyanyikan Thae Umar dan sempat menjadi hits di Maluku Utara. Di tahun 2020, ketika Covid-19 mengganas, hadir sebuah lagu etnik-relijius, pemberi spirit dari Simple Accoustic, Sobaka Doa (Mari Kita Panjatkan Doa), lagu ini bagi penulis memberi warna khas dengan sentuhan paling mengesankan, baik syair maupun irama. Tak ketinggalan pula musik Kabata Lalayon dari Halmahera Tengah dan Halmahera Timur yang dinamis memberi sentuhan kuat akan musik beridentitas kelokalan.

Baca juga  Kebudayaan, Makna Batiniah, dan Tulisan

Tak salah bila Kenton O’ Hara dan Barry Brown ketika menjadi editor buku : Consuming Music Together menyebutkan : “Musik mampu membuat kita merasa bahagia atau sedih, santai atau energik, mampu membangkitkan kenangan berharga…Cara kita mengkonsumsi musik tidak sesederhana sekadar mendengarkannya, namun juga terintegrasi ke dalam pribadi dan kehidupan sosial kita.” (O’Hara dan Brown, 2006: 3).

Integrasi Sosial

Pasca konflik kekerasan Maluku Utara, panggung musik lokal tak pernah sepi. Produksi demi produksi lagu-lagu lokal bernuansa etnik-pop Maluku Utara begitu semarak. Kemasan tak lagi konvensional yang sebelumnya menggunakan pita tanpa gambar (non-visual), namun telah berubah wujud menggunakan model cakram CD/VCD lengkap dengan visual. Jadilah kemudian, lagu-lagu lokal pasca konflik memiliki daya pesona yang mudah diperoleh di mana-mana. Dalam suasana rehabilitasi sosial, lagu-lagu lokal hampir memenuhi atmosfir ruang hiburan masyarakat Maluku Utara. Lapak-lapak penjualan CD/VCD tumbuh bak jamur di musim hujan.

Tak hanya di Kota Ternate, daerah lain di Maluku Utara juga ikut meramaikan dan mensosialisasikan lagu-lagu lokal tersebut. Belum lagi dari sound system yang dipasang di mobil angkot ikut mempromosikan lagu-lagu lokal tersebut. Tak hanya itu, pesan-pesan tentang perdamaian melalui lagu-lagu lokal juga melibatkan penyanyi nasional, Cici Paramida yang menyanyikan lagu Maku Gasa Ira Afa (Jangan Saling Bermusuhan), sebuah lagu dengan genre unik : memadukan irama qasidah, etnik, dan pop-dangdut.

Musik lokal telah bertransformasi membawa misi yang lebih luas. Tidak sekadar menyuarakan perasaan cinta dan suasana hati, tapi telah mengemban nilai-nilai kemanusiaan. Sebagian lirik lagu-lagu lokal justru lahir dalam suasana amarah dan konflik yang masih tersisa. Simak misalnya lagu : Minggu Mahutu (Malam Minggu), Halmahera Majarita (Halmahera Punya Cerita), dan Tobeloho. Ketiga lagu ini menceritakan tentang asal konflik kekerasan yang mengharu biru Tobelo dan Halmahera sekitarnya. Di sela-sela syair lagu, terdapat intermezzo, yang dengan cerdas menyesapkan pesan-pesan damai penuh petuah-petuah yang dikenal dalam idiom kultur lokal.

Baca juga  Pahlawan Nasional untuk Profesor Rasyidi

Lagu-lagu berlirik etno-kultural mencoba menggugah dinding mental dan kognitif masyarakat untuk tidak ikut larut menyuburkan permusuhan. Sebaliknya, sikap harmoni perlu dilestarikan sebagai bagian dari kekayaan lokal yang telah ada selama ini.

Secara sosiologis, musik melalui bahasa (lokal) merupakan sarana integrasi sosial normatif, karena mencoba mengembalikan nilai-nilai, norma-norma, serta cita-cita bersama yang telah disepakati. Melalui musik dengan bahasa (lokal) solidaritas masyarakat dipulihkan untuk tidak berkonflik dan tidak memendam sikap permusuhan.

Agen Kultural

Musik (lokal) dengan bahasa (syair) yang transformatif mencoba membentuk struktur mental kehidupan masyarakat untuk tetap menjaga nilai kekerabatan dan kekeluargaan. Tatkala sikap dendam, sentimen, stigma, saling curiga, dan prasangka begitu menguat, musik dengan bahasa yang ada pada lagu tersebut justru tampil sebagai “agen kultural” dan sebaliknya melakukan perlawanan, mengajukan antitesa terhadap sikap dendam, sentimen, stigma, saling curiga, dan prasangka dengan membangun sikap toleran, penghargaan, partisipasi, saling menyayangi, dan komunikatif melalui lirik lagu, melalui musik.

Melalui agen kultural inilah, musik melakukan upaya untuk mempertemukan antara “agen struktur” dan “agen kultur” dalam menyampaikan pesan-pesan perdamaian. Seandainya, musik berorientasi pada struktur, tentu tidak akan dapat diterima oleh masyarakat, dan pesan damai tak mungkin terserap secara baik. Musik kemudian menjadi agen kultur yang universal, lalu kemudian bergerak menjadi agen struktur untuk menyampaikan pesan-pesan luhur.

Musik merupakan bahasa universal kemanusiaan, yang mampu melintasi sekat-sekat apapun, termasuk ideologi. Karena itu, musik sebagai “agen kultural” lebih mudah diterima masyarakat, di mana musik jauh dari kepentingan apapun.

Sebagai rekomendasi akhir dari tulisan ini, kiranya musik (lokal Maluku Utara) dengan bahasa sarat makna, sudah harus didorong menjadi bagian penting menyebarkan pesan-pesan kemanusiaan dan kehidupan harmoni, sekaligus untuk mengembangkan potensi-potensi lokal yang telah ada, sekaligus diperjuangkan hak ciptanya.

 

Share :

Baca Juga

Opini

Air dan Konflik

Opini

Memanusiakan Sistem
Reza A.A Wattimena dan Bernardinus Herry Priyono

Opini

Melampaui Paradoks: B. Herry Priyono dalam Kenangan

Opini

Pemuda & Visi Pembangunan Daerah

Opini

Tidore Membutuhkan BAGUS
Rusly Saraha

Opini

Coklit
https://id.pinterest.com/pin/514184482451790959/?hcb=1

Opini

Ketidaktahuan yang Agung

Opini

Melawan Covid Dengan Sedekah Kata